Kemenkes Ungkap Fomepizole Tak Efektif Untuk Anak Gagal Ginjal Stadium Tiga

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap fomepizole atau antidotum alias obat penawar tak efektif untuk penderita gagal ginjal akut stadium 3. Untuk itu, penggunannya diharusnya seawal mungkin pasca penyakit itu terdeteksi.

Demikian dikatakan Juru Bicara Kementerian Kesehatan M. Syahril. "Nah Fomepizole itu adalah obat untuk penawar, antidotum istilahnya terhadap gangguan-gangguan. Ini memang sebaiknya, antidotum ini diberikan seawal mungkin pada saat dia diketahui memang ada suatu keracunan," kata Syahril saat konferensi pers, Senin (1/11).

Namun, bila anak sudah di stadium tiga, yaitu tidak memproduksi urine atau anuria, Fomepizole ini kurang efektif.

"Apabila memang betul-betul rusak maka tidak terjadi produksi urine yang disebut dengan anuri, nah di situ lah stadium tiga terjadi pada anak-anak tersebut. Tapi apabila sudah stadium berat, lanjut, maka akan menjadi sulit ya, apalagi dengan cuci darah," kata Syahril.

Maka dari itu, pemberian antidotum atau fomepizole ini harus dilakukan sedini mungkin. Sebab, proses kerusakan ginjal ini sangat cepat terjadi.

"Ini juga menjadi kesulitan tersendiri bagi kita apabila dia sudah masuk ke stadium tiga. Jadi, kata kuncinya adalah semakin cepat itu semakin baik. Tanpa antidotum itu, proses cepat sekali ya. Maka, segera diberikan ya dengan masuk menetralisir racun-racun tadi supaya tidak terjadi kristal-kristal yang memang merusak atau menghancurkan ginjal," kata Syahril.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyakit gagal ginjal anak awalnya masuk dari obat sirop yang dikonsumsi. Menurut dia, dalam setiap obat sirop digunakan pelarut tambahan.

"Ini adalah pelarut tambahan yang memang sangat jarang ditulis di senyawa aktif obat dan pelarut tambahan sebenarnya tidak berbahaya. Tapi kalau kualitas produksi pelarut tambahan buruk, dia menghasilkan cemaran cemaran," jelas Budi saat konferensi pers di Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/10).

Budi mengatakan, tiga senyawa tersebut masuk ke tubuh dan terjadi proses metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh yang alamiah itu mengubah senyawa tersebut menjadi asam oksalat, zat kimia berbahaya.

"Metabolisme mengubah jadi asam oksalat, nah ini berbahaya asam oksalat itu kalau masuk ke ginjal bisa jadi kalsium oksalat. Jadi kaya kristal kecil tajam. Sehingga kalau ada kristal kecil tajam di Balita kita ya rusak ginjalnya," kata Menkes. [rhm]