Kemenkeu Pastikan Ekonomi RI Tak Lagi Resesi pada 2021

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan perekonomian Indonesia sepanjang 2020 masih dalam zona resesi. Meski begitu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meyakini pada 2021 ekonomi akan kembali tumbuh.

BPS mencatat, sepanjang 2020 ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 2,07 persen. Catatan kontraksi tersebut dikatakan sebagai yang terburuk setelah periode krisis moneter yang terjadi pada 1998.

Kontraksi sepanjang tahun itu berasal dari ekonomi Indonesia yang sejak kuartal II-2020 telah minus 5,32 persen. Kemudian pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen dan pada kuartal IV-2020 minusnya sebesar 2,19 persen.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menyatakan, meski dalam zona resesi atau negatif, ekonomi pada 2020 tersebut secara kuartalan terus membaik.

Baca juga: Harga Telur Ayam Turun Diperkirakan Picu Deflasi di Februari 2021

"Tren pemulihan ekonomi pada kuartal-IV 2020 ini diprediksi akan terus berlanjut di tahun 2021," kata dia melalui keterangan tertulis, Jumat, 5 Februari 2021.

Febrio menilai, perbaikan yang akan berlanjut pada 2021 itu ditopang oleh beberapa faktor, diantaranya PMI Manufaktur pada Januari 2021 yang kembali meningkat dari 51,3 pada Desember 2020 menjadi 52,2.

"Bahkan merupakan level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Selain itu, tingkat keyakinan masyarakat juga terus berada pada tren positif," tuturnya.

Atas dasar itu, Febrio menekankan pemerintah masih belum mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 sebesar 5 persen. Sebab, ekonomi 2020 juga masih dalam rentang proyeksi minus 1,7-2,2 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 diperkirakan akan kembali tumbuh positif di level sekitar 5 persen," ucap Febrio.

Proyeksi ini, dikatakannya menunjukkan adanya tren pembalikan atau rebound, searah dengan prediksi beberapa lembaga internasional. Seperti International Monetery Fund (IMF) 4,8 persen, Bank Dunia 4,4 persen dan Bank Pembangunan Asia 4,5 persen.

"Namun demikian, adanya variasi angka proyeksi menunjukkan faktor ketidakpastian dari perkembangan COVID-19 dan proses pelaksanaan vaksinasi," tegasnya.

Ke depan, pemerintah dipastikannya akan tetap fokus pada langkah-langkah antisipatif dan responsif dalam menekan penyebaran pandemi COVID-19 serta mendorong keberlanjutan pemulihan ekonomi nasional.