Kemenkeu: Subsidi Energi Belum Melindungi Si Miskin

Merdeka.com - Merdeka.com - Peneliti Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Yuventus Effendi mengungkapkan, subsidi energi masih belum tepat sasaran. Baik subsidi listrik maupun bahan bakar minyak (BBM).

"Memang sebagian besar rumah tangga. 81 Persen. Tapi rumah tangga yang mana? Apakah rumah tangga miskin atau kaya," terang Yuventus dalam webinar, Kamis (28/7).

Hal yang sama terjadi pada subsidi Pertalite, di mana orang-orang kaya cenderung mengkonsumsi Pertalite.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia sendiri masih banyak masalah, bahwa subsidi energi itu belum tepat sasaran dan belum melindungi rumah tangga miskin," tegasnya.

Oleh karena itu, Yuventus menjelaskan pemerintah akan melakukan reformasi subsidi.

Seperti, pertama transformasi subsidi LPG tepat sasaran, yang diintegrasikan dengan kartu sembako. "Target keluarga penerima manfaat (KPM) 40 persen penduduk pendapatan terendah. Kemudian target jenis pekerjaannya untuk usaha mikro, nelayan kecil dan petani kecil," terang Yuventus.

Kedua memperkuat penerapan subsidi tepat sasaran untuk R1 450 VA disertai dengan kebijakan tariff adjustment untuk pelanggan non subsidi, diselaraskan dengan kondisi perekonomian.

Ketiga, mendorong transformasi subsidi listrik yang terintegrasi dengan subsidi LPG atau kartu sembako.

Indonesia Rentan Krisis Energi

krisis energi
krisis energi.jpg

Yuventus menambahkan ketahanan energi Indonesia juga masih memerlukan perbaikan. Menurutnya, hal ini disebabkan ketergantungan konsumsi energi dari sumber energi fosil seperti batubara, gas dan minyak.

"Dalam beberapa tahun terakhir ini untuk konsumsi energi lebih dominan dari sektor industri dan transportasi," ujarnya.

Hal tersebut, membuat Indonesia rentan terhadap suplai minyak dan gas impor serta perubahan harga.

"Misalnya sejak 2004 indonesia merupakan negara net importir minyak. Kemudian beberapa bulan terakhir harga komoditas termasuk energi itu cenderung naik," terangnya.

Di sisi lain diakui sumber energi dan produksi listrik berasal dari energi baru terbarukan (EBT), sumbangannya kepada suplai energi nasional cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

"Kita juga sudah punya energi baru terbarukan seperti solar panel, atau dari angin, air. Tapi sayangnya dalam beberapa tahun terakhir ini proporsinya malah cenderung menurun," jelas Yuventus. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel