Kemenko Marves Dorong Pengelolaan Sampah Sejak Dini dari Rumah

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Banyuwangi Pemerintah terus berupaya mengantisipasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah dan limbah yang berasal dari rumah tangga maupun industri. Selain membuat kebijakan tegas terkait sampah dan limbah, pemerintah juga aktif untuk mengedukasi masyarakat. Seperti Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) yang terlibat aktif dalam kegiatan Clean Up di Pantai Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Sabtu, 14 November 2020.

Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah (Kemenko Marves) Rofi Alhanif mengatakan bahwa pengolahan sampah yang baik dan bijak bermula sejak dari rumah dengan cara berpikir yang cerdas. Artinya, harus ada pola pikir yang baik ketika membeli suatu barang apakah akan menghasilkan sampah atau tidak dan ini harus menjadi pertimbangan dasar.

“Persoalan sampah ini memang bukan hanya di sini (Pantai Sampangan), persoalan sampah bermula dari rumah kita, pola hidup kita, cara berpikir kita. Di dalam teori minimal ada 4R pengelolaan sampah yaitu: rethink, reduce, reuse, dan recycle,” kata Asisten Deputi (Asdep) Rofi dalam sambutannya pada kegiatan Clean Up di Pantai Sampangan.

Asdep Rofi mengungkapkan dirinya sudah sejak lama mendengar keberadaan Pantai Sampangan yang ada di Banyuwangi, beberapa waktu lalu sempat ramai dibahas khalayak ramai di sosial media karena kawasan ini penuh dengan sampah plastik.

Ia pun mengaku senang dan terkesan dengan kemajuan pembersihan yang dilakukan masyarakat dan stakeholder terkait yang digagas oleh Badan Pengelolaan Sampah-Go Sampah Sistem (GO-PASS) sehingga nantinya kembali bersih dan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.

Gerakan Bersih Sampah di Pantai Sampangan

Gerakan bersihkan sampah di Pantai Sampangan oleh masyarakat Kedungrejo dan dibantu komunitas sadar wisata sudah berlangsung sekitar beberapa hari pada pekan ini dan hasilnya sudah bisa dilihat secara nyata. Asdep Rofi menerangkan bahwa kerja konkrit yang dilakukan ini menjadi contoh nyata sebagai kepedulian terhadap lingkungan yang patut dicontoh daerah lain di Indonesia.

Lebih lanjut Asdep Rofi menerangkan bahwa gaung Banyuwangi sebagai salah satu daerah wisata di Indonesia tercipta berkat kinerja pemerintah dan pemangku kepentingan yang menaruh perhatian dan keseriusan pada potensi daerahnya. Namun sampah dan pariwisata dua hal yang tidak dapat dipisahkan atau saling keterkaitan, sehingga harus diperhatikan secara kolektif.

Susun Juknis Pengelolaan Sampah Plastik di Destinasi Wisata

Gerakan Bersih Sampah di Pantai Sampangan.
Gerakan Bersih Sampah di Pantai Sampangan.

Melihat kondisi ini di lapangan, Kemenko Marves bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang menyusun Petunjuk Teknis Pengelolaan Sampah Plastik di Destinasi Wisata. Selain mengembangkan destinasi wisata baiknya juga harus memperhatikan persoalan sampah sebagai suatu dampak kemunculan aktivitas pariwisata. Sebagai destinasi pariwisata maka kebersihan lingkungan harus menjadi suatu keharusan.

Sementara itu, Kepala Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jatim, Ahmad Zaiho menjelaskan bahwa ide untuk membersihkan Pantai Sampangan ini bermula ketika tim dari Kemenko Marves bersama Kemenparekraf mengunjungi lokasi dan memberikan semacam tantangan untuk membersihkan lokasi tersebut agar dapat dimanfaatkan kembali. Atas dasar itu, pihaknya bersama warga dan komunitas-komunitas setempat berkoordinasi kemudian membersihkannya secara swadaya.

Ahmad mengungkapkan dirinya sangat senang dan bahagia Desa Kedungrejo bisa terpilih untuk lokasi pembersihan sampah-sampah yang selama ini mengotori bibir pantai. Ia berharap dengan adanya upaya dan gerakan bersama membersihkan sampah ini bisa menjadi berkah tersendiri nantinya bagi desa, khususnya masyarakat yang berada di lokasi yang sudah dirancang sebagai lokasi wisata.

Diungkapkan Ahmad, masalah sampah di Desa Kedungrejo saat ini sangat kompleks dan memprihatinkan sehingga butuh tindakan yang sangat serius atau extraordinary untuk mengatasinya. Faktanya, ada sekitar 30 ribu warganya yang berpotensi menghasilkan sampah yang sangat banyak, selain itu juga ada puluhan perusahaan baik skala lokal, nasional, bahkan internasional.

“Ini berpotensi menghasilkan sampah dan limbah yang luar biasa. Jadi butuh kebersamaan, sinergitas, semangat yang sama, sampah ini tidak hanya dibebankan kepada kami pemerintah desa dengan segala keterbatasan, kami sangat tidak mungkin mengatasi permasalahan sampah yang ada di desa ini sendirian,” tutupnya.

Warga Olah Sampah Jadi Bernilai Ekonomis

Tak dimungkiri sampah jadi masalah besar saat ini dengan segala kompleksitasnya. Karena itu dibutuhkan inovasi dan terobosan baru untuk mengolahnya dengan baik serta bijak.

Saat ini di Kecamatan Muncar sudah muncul para pegiat atau kelompok peduli sampah yang mengolah sampah lebih bermanfaat dengan membuat alat pengolahan sampah plastik menghasilkan BBM setara bensin, solar, dan minyak tanah yang sudah beroperasi di Bengkel Pengolah yang diberi nama Badan Pengelolaan Sampah-Go Sampah.

Sejak mulai beroperasi tempat pengolahan ini sudah menghasilkan ribuan liter BBM yang kemudian dijual. Artinya, ada saling keterkaitan satu sama lain yakni sampah yang dihasilkan masyarakat kemudian sampah dikumpulkan dan dibeli, diolah menjadi BBM, dan ujungnya BBM hasil produksi dijual kembali kepada masyarakat.

Para pegiat atau kelompok peduli sampah di Kecamatan Muncar ini terus bereksperimen dan berinovasi guna menghasilkan temuan yang baru serta berguna bagi masyarakat sekitar khususnya.Atas dukungan yang diberikan para aparat desa, tokoh masyarakat, dan elemen lainnya mereka pun lebih serius untuk bekerja agar menjadi solusi solutif atas persoalan sampah selama ini.

Mereka berharap mendapat dukungan dari pemerintah baik kabupaten, provinsi, maupun pusat lewat kementerian lembaga (K/L) terkait. Sehingga persoalan sampah di berbagai wilayah di Indonesia nanti bisa diatasi dengan temuan-temuan seperti tersebut diatas.

(*)