Kemenko PMK: Tingkatkan cakupan booster jelang Natal dan tahun baru

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis penguat atau booster menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2023.

"Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan perlu berpartisipasi aktif meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis penguat atau booster," kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto dihubungi di Jakarta, Kamis.

Selain itu, Agus juga mengingatkan agar masyarakat perlu memperkuat penerapan protokol kesehatan guna mencegah lonjakan kasus seiring adanya potensi peningkatan mobilitas masyarakat pada saat libur Natal dan Tahun Baru 2023.

"Menuju peningkatan aktivitas dalam perayaan tersebut, sudah selayaknya masyarakat selalu patuh terhadap protokol kesehatan serta melengkapi diri dengan vaksinasi mulai dosis pertama hingga dosis ketiga atau booster," ujarnya.

Agus menambahkan, bahwa ditemukan nya vCOVID-19 varian XBB di Indonesia juga mengingatkan masih perlunya memperkuat disiplin protokol kesehatan dan vaksinasi.

Baca juga: Bio Farma: IndoVac telah melewati tahap uji klinis untuk booster

Baca juga: Ketepatan waktu bangun antibodi COVID-19 lindungi RI dari varian XBB

"Penguatan protokol kesehatan juga sangat diperlukan di tengah munculnya sub-varian baru COVID-19 yaitu sub-varian XBB," ucapnya.

Agus juga menambahkan bahwa pandemi belum selesai sehingga seluruh lapisan masyarakat perlu senantiasa menerapkan upaya menyeluruh sebagai satu rangkaian pencegahan penyebaran COVID-19.

"Penting diingat oleh seluruh masyarakat bahwa tanggung jawab terbesar dari upaya pencegahan penyebaran COVID-19 ada pada diri masing masing," imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan bahwa per tanggal 23 Oktober 2022, jumlah penambahan kasus positif dalam satu minggu di tingkat dunia mencapai 2,98 juta.

"Kemunculan COVID-19 sub-varian XBB di beberapa negara di dunia diprediksi akan menjadi sub-varian penyebab kembalinya lonjakan kasus," tambahnya.

Berbagai ahli di Amerika Serikat maupun WHO, kata Wiku, menyebutkan bahwa sub-varian XBB bisa memicu lonjakan kasus di akhir tahun dan puncaknya di bulan Januari 2023, namun belum ada bukti bahwa sub-varian ini lebih berbahaya secara klinis dari varian atau sub-varian sebelumnya.