Kemenkominfo Temukan 1.983 Isu Hoaks Covid-19 di Medsos

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkap, di pekan kedua bulan November 202, sebaran hoaks seputar Covid-19 mengalami kenaikan.

Dedy Permadi, Juru Bicara Kemenkominfo menyampaikan, hingga Rabu pekan ini, mereka telah mengidentifikasi 1.983 isu hoaks Covid-19 sejak Januari 2020.

Melalui konferensi pers virtualnya, Dedy mengungkapkan, kabar bohong seputar Covid-19 tersebut ada di 5.099 unggahan media sosial.

"Dengan persebaran terbanyak pada Facebook, sejumlah 4.402 sebaran," kata Dedy. Platform media sosial lain yang juga ditemukan adanya hoaks seperti Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok.

Kemenkominfo pun mengklaim telah melakukan pemutusan akses terhadap 4.977 unggahan dengan 122 unggahan lainnya sedang ditindaklanjuti.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Hoaks Vaksinasi dan PPKM

ilustrasi Hoax{Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi Hoax{Liputan6.com/Abdillah)

Dedy melaporkan, Kemenkominfo juga telah mengidentifikasi 382 isu hoaks vaksinasi Covid-19, pada 2.398 unggahan media sosial.

Facebook lagi-lagi menjadi tempat terbanyak ditemukannya persebaran isu hoaks ini, dengan 2208, di samping media sosial lainnya seperti Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok.

Kemenkominfo menyatakan, pada seluruh unggahan soal hoaks vaksinasi corona tersebut sudah dilakukan pemutusan akses.

Selanjutnya, ditemukan 48 isu hoaks soal Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), pada 1.140 unggahan media sosial, dengan persebaran terbanyak di Facebook yaitu mencapai 1.122 unggahan.

Pemutusan akses sudah dilakukan terhadap 983 unggahan dan 157 unggahan lain sedang ditindaklanjuti.

"Pada minggu ini memang terdapat peningkatan isu Covid-19 namun terjadi penurunan sebaran konten hoaks Covid-19 dengan jumlah 12 isu dan 34 unggahan," kata Dedy.

Ia membandingkan, di pekan sebelumnya, penambahan isu Covid-19 sebanyak 3 isu dan 40 unggahan.

Tes Swab Ada di Mesir Kuno?

Petugas kesehatan melakukan tes usap (swab test) antigen dan PCR gratis di Terowongan Kendal, Menteng, Jakarta, Kamis (2/9/2021). Program ini dilaksanakan di lokasi yang berbeda-beda dengan tujuan untuk memutus penularan COVID-19 dari orang tanpa gejala (OTG). (Liputan6.com/Johan Tallo)
Petugas kesehatan melakukan tes usap (swab test) antigen dan PCR gratis di Terowongan Kendal, Menteng, Jakarta, Kamis (2/9/2021). Program ini dilaksanakan di lokasi yang berbeda-beda dengan tujuan untuk memutus penularan COVID-19 dari orang tanpa gejala (OTG). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dedy mengungkapkan, ada beberapa hoaks yang beredar yang perlu diluruskan. Pertama adalah narasi soal stroke yang menyerang anak sebagai efek samping vaksin Covid-19.

Selain itu, terdapat juga hoaks yang berbunyi penerima vaksin Covid-19, berisiko lebih tinggi terkena limfoma dan autoimun, serta foto kemasan vaksin Sinovac "Only for Clinical Trial."

Dedy juga melaporkan, ada juga hoaks yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 memiliki tingkat kematian 174 kali lebih tinggi pada anak-anak daripada virus Covid-19.

Terdapat juga narasi bahwa Pfizer menambah zat yang digunakan untuk menstabilkan korban serangan jantung ke dalam vaksin Covid-19

Yang terbaru, sebuah narasi menyebutkan bahwa tes swab bisa menggores amigdala dan dilakukan di zaman Mesir kuno untuk membuat budak menjadi patuh.

"Faktanya keenam unggahan atau informasi tersebut adalah berita menyesatkan dan masuk dalam kategori disinformasi atau hoaks," kata Dedy menegaskan.

(Dio/Ysl)

Infografis Sebar Hoaks demi Raup Untung di YouTube

Infografis Sebar Hoaks demi Raup Untung di YouTube. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Sebar Hoaks demi Raup Untung di YouTube. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel