Kemenkop dorong para petani di Cianjur masuk koperasi

·Bacaan 2 menit

Kementerian Koperasi dan UKM mendorong konsolidasi para petani di Cianjur, Jawa Barat, agar masuk koperasi melalui konsep korporatisasi agar kesejahteraan petani meningkat.

"Kami melihat Cianjur memiliki potensi di sektor pangan misalnya padi atau beras. Kami ingin dorong konsolidasi petani padi untuk masuk koperasi dengan konsep korporatisasi petani agar produknya efisien dan ekonomis, sehingga kesejahteraan petani meningkat," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di Cianjur sebagaimana tertera dalam keterangan pers, Jakarta, Sabtu.

Selain itu, ia menyatakan bahwa pembangunan kelembagaan ekonomi petani sangat penting agar ketahanan pangan lebih terjamin.

Baca juga: Kemenkop dorong potensi pertumbuhan ekonomi dari kalangan perempuan

Menurut Teten, sektor pangan saat ini memiliki banyak permintaan baik di pasar lokal maupun di pasar global.

Karena itu, ujar dia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus dapat memanfaatkan keunggulan pangan domestik.

Hal ini disebabkan masih banyak berbagai produk pangan yang masih impor, seperti jagung, kedelai, bawang putih, gula, susu, dan daging sapi. Adapun komoditas dengan permintaan terbanyak di dunia, lanjutnya, adalah buah dan rempah.

Baca juga: Kapasitas Koperasi-UMKM ditingkatkan, pertumbuhan ekonomi akan melesat

"Kita harus sudah mulai membidik UMKM masuk di sektor-sektor yang memiliki keunggulan domestik. Dunia sudah melihat apa yang menjadi keunggulan domestik negaranya masing-masing," tuturnya.

Dia mengaku optimis bahwa Indonesia dapat mewujudkan ketahanan pangan melalui pembenahan kelembagaan, termasuk akses pembiayaan.

Saat ini, dinyatakan porsi kredit UMKM di Indonesia baru 19,8 persen, tertinggal dibandingkan negara Singapura yang sebesar 39 persen, Malaysia dan Thailand 50 persen, serta Korsel 81 persen.

Baca juga: Menkop: koperasi syariah andil tingkatkan pertumbuhan PDB

Presiden Joko Widodo, ucap Teten, meminta kredit UMKM naik menjadi 30 persen dan pagi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bisa sampai Rp20 miliar secara bertahap hingga tahun 2025.

"Kelembagaan UMKM mesti kita benahi. Kalau tidak diberesi, tidak akan sampai porsi kredit UMKM mencapai 30 persen," akunya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel