Kemenkop lepas ekspor perdana 15 ton produk tuna dari nelayan NTT

·Bacaan 2 menit

Kementerian Koperasi dan UKM melepas ekspor perdana produk tuna sashimi dan katsuobushi skipjack sebanyak 15 ton ke Malaysia serta Jepang dari nelayan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ekspor ini disebut berhasil berkat binaan PT Daya Gagas Indonesia yang merupakan perusahaan startup aplikasi perikanan tangkap, FishOn, untuk membantu nelayan dan PT Samudera Emas Anugerah sebagai agregator.

“Acara (ini) merupakan tanda bahwa UKM sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi pengungkit ekonomi sekaligus peluang di masa pandemi,” tutur Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat memberikan sambutan secara virtual di acara pelepasan ekspor perdana dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Kemenkop resmikan Smesco Hub Timur di Bali untuk optimalkan UMKM

Dia mengatakan sektor perikanan memiliki potensi ekspor yang sangat besar karena permintaan pasar internasional terhadap hasil perikanan sangat tinggi.

Ekosistem FishOn berupa implementasi pembinaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari hulu ke hilir dengan memberikan pendampingan teknis, pembiayaan, serta kepastian pasar kepada para nelayan.

Di Kabupaten Sikka, FishOn juga mengoperasikan factory sharing (rumah produksi bersama terpadu) yaitu FishOn Cloud Factory atas hasil kerja sama dengan perusahaan penanaman modal asing (PMA) dari Jepang bernama KCBS.

Deputi UKM Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba menerangkan bahwa kehadiran pihaknya ke Kabupaten Sikka melepas ekspor perdana bertujuan untuk memastikan program agregasi UKM dapat berjalan sesuai arahan Menkop Teten.

“UKM nelayan harus kita berikan karpet merah, mulai dari pembiayaan operasional melaut hingga menghubungkan dengan market ekspor,” utaranya di Desa Wailiti, Sikka, NTT, Sabtu

Baca juga: Kemenkop pertemukan pelaku usaha wastra di 5 DSP dengan lokapasar

CEO FishOn Fajar Widisasono menyatakan, FishOn Cloud Factory merupakan inovasi layanan baru untuk pebisnis ikan dalam dan luar negeri, sehingga mereka tak perlu menghabiskan biaya investasi membangun pabrik dan membina nelayan.

Saat ini, pembeli dari Jakarta dan Surabaya mulai bergabung dengan layanan itu seperti dari CV Sumaco Inti Samudera serta PT Samudera Emas Anugerah.

Pembeli dari Jepang, Malaysia, Tiongkok, dan Inggris juga sudah melakukan transaksi pembelian ikan langsung di Maumere (ibu kota Kabupaten Sikka).

Dalam pelepasan ekspor perdana, acara dimulai dengan melihat proses pendaratan ikan. Lalu kegiatan penimbangan dan sortir, lelang online, proses pengolahan ikan tuna sirip kuning menjadi produk akhir tuna sashimi dan pengolahan ikan cakalang menjadi katsuobushi skipjack.

Seorang nelayan dari Desa Nangahure Lembah di Kabupaten Sikka, Engga Diaz, mengutarakan kerja sama dengan FishOn dapat mengangkat harga di tingkat nelayan dan menjaga kestabilan harga.

“Setelah FishOn hadir, kualitas tangkapan kami selalu dapat penilaian tinggi dan timbangan dihitung sampai ke angka koma di belakang. Juga harga tidak naik turun setiap hari seperti dulu dan yang paling penting pembayarannya pun langsung lunas dan tidak diutang” jelas dia.

Saat ini, dijelaskan terdapat 184 nelayan tuna dan cakalang yang merasakan manfaat FishOn. Mereka mendapatkan permodalan Rp5 juta-7 juta per nelayan berdasarkan hasil kerjasama dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BNI.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel