KemenkopUKM pertemukan 16 startup asal Bali dengan calon investor

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) mempertemukan 16 perusahaan rintisan (startup) milik anak muda Bali dengan calon investor dalam kegiatan pengembangan kapasitas startup yang dipimpin langsung MenkopUKM Teten Masduki di Denpasar, Bali, Sabtu.

Sebelum mempertemukan ke-16 startup dengan investor, KemenkopUKM terlebih dahulu melakukan proses kurasi lembaga inkubator, seleksi startup, kamp pelatihan, pembinaan, workshop para ahli, pemantauan, hingga hari demo di mana mereka mempresentasikan rencana bisnis kepada calon mitra.

"Kami tidak lagi melakukan pelatihan-pelatihan lepas, tapi inkubasi. Ini perlu pendekatan serius, memilih apa yang menjadi keunggulan domestik. Saya dengar banyak aplikasi-aplikasi digital baru dari mahasiswa, kegiatan ini bagus untuk memberi ruang kepada mereka yang tidak bisa masuk karena kapasitasnya kecil," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Dalam kegiatan tersebut, KemenkopUKM mempertemukan para mahasiswa yang berasal dari STIKOM Bali itu dengan perwakilan stakeholder pentahelix seperti Badan Riset dan Inovasi Provinsi Bali, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Dinas Pendidikan Provinsi Bali, East Ventures, Bali Investment Network, Krisna Holding Company, Junior Chamber International Bali, HIPMI Denpasar, The Space Bali, ASITA Bali, dan Balai Kreatif Denpasar.

Adapun model bisnis serta produk dari masing-masing startup berbeda, bidang usaha yang digeluti mulai dari teknologi edukasi, teknologi kesehatan, teknologi peternakan, dan teknologi pemasaran digital.

MenkopUKM Teten Masduki berharap, pada hari demo program pengembangan kapasitas startup ini, mampu terbangun jaringan, potensi adanya kolaborasi hingga mendapat pendanaan dari investor yang hadir.

Ia melihat, ke-16 perusahaan rintisan hasil kreatifitas dan inovasi anak muda Bali juga sangat berguna untuk membantu UMKM daerah, sehingga harus dikembangkan untuk dapat bersaing lebih tinggi.

"Saya lihat mereka bukan hanya menyediakan pasar, tapi membantu bisnis dalam proses digitalisasi. Ini yang kita targetkan, bagaimana muncul aplikasi-aplikasi digital baru yang membantu pelaku UMKM tumbuh berkembang," ujar MenkopUKM kepada media.

Menurutnya, kehadiran startup menjadi sangat penting di era digital, apalagi ekonomi Indonesia kekuatannya berasal dari UMKM, sehingga pelaku usaha mikro akan terbantu dengan teknologi digital.

Salah satu startup yang lolos kurasi Inkubator Bisnis STIKOM Bali juga telah mengikuti satu kali kamp pelatihan, enam kali pembinaan, satu kali workshop dan beberapa kali pemantauan bersama 15 perusahaan lainnya di kegiatan peningkatan kapasitas startup adalah Uwala.

"Uwala ini layanan generator templat, jadi fungsinya untuk membantu mempercantik produk dari UMKM yang ada di Bali atau mikro industri itu yang kita bantu," kata CEO Uwala I Kadek Yogianto di hadapan MenkopUKM.

Mahasiswa semester 5 jurusan Sistem Informasi STIKOM Bali itu menyebut pelaku usaha tak perlu lagi kesulitan dalam mempercantik tampilan usaha untuk dipromosikan di sosial media, lantaran situs buatannya telah menyediakan ragam format yang dapat digunakan dengan praktis.

Yogi bercerita, startup Uwala dibentuk bersama tujuh mahasiswa lainnya pada 2021 dengan tujuan membantu UMKM yang saat itu beralih ke pasar digital akibat pandemi COVID-19.

"Dari sana (peralihan) banyak masalah yang terjadi. Pelaku UMKM kesulitan memilih tampilan visual yang menarik untuk promosi, dan ketika dibandingkan kompetitor lain, layanan kami lebih praktis," ujarnya.

Hingga saat ini situs gratis tersebut telah diakses oleh 104 UMKM dengan 148 produk yang didaftarkan. Yogi berharap ke depan perusahaan rintisan tersebut dapat berkembang jika mendapat dukungan lebih.

"Harapan saya semoga semua startup atau usahawan muda di program pengembangan kapasitas startup ini bisa terbantu dengan adanya investor, sehingga nantinya dapat lebih berkembang lagi perusahaannya," kata Yogi.

Baca juga: Startup energi bersih Xurya ekspansi ke Jawa Tengah
Baca juga: FishLog dapat pendanaan Pra-Seri A Rp50 M
Baca juga: Tujuh "startup" jebolan SSI sukses naik kelas