Kemenparekraf berupaya bangkitkan Desa Wisata Kerobokan Bali

Satyagraha
·Bacaan 3 menit

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berupaya membangkitkan geliat pariwisata di Desa Kerobokan Bali yang terdampak pandemi COVID-19 melalui Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman).

Analis Koordinator Edukasi II/Analis Kebijakan Ahli Madya, Kemenparekraf, Jemmy Alexander di Jakarta, Jumat, mengatakan perlu upaya nyata untuk membangkitkan pariwisata, misalnya melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Fotografi dan program Gerakan BISA.

“Kami menggelar program bimtek dan gerakan BISA di Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada 4 Desember 2020,” katanya.

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan dukungan bagi para pelaku wisata dan ekonomi kreatif, khususnya masyarakat di Kabupaten Tabanan tepatnya di Desa Kerobokan, Kecamatan Baturiti.

"Kegiatan ini diselenggarakan untuk mengantisipasi dampak dari wabah COVID-19 yang mempengaruhi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pandemi berpengaruh langsung terhadap sektor tenaga kerja bidang pariwisata ekonomi kreatif, baik tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tidak langsung," kata Jemmy.

Baca juga: Kemenparekraf: Kreativitas dorong geliat seni hiburan dan pariwisata

Lebih lanjut, Jemmy menambahkan, peserta kegiatan yang hadir adalah tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tidak langsung yang mendukung pariwisata atau destinasi pariwisata yang ada di Kabupaten Tabanan.

"Dalam Gerakan BISA ini, pelaku pariwisata diajak untuk melakukan kegiatan bersih-bersih, menata kembali serta menyemprot disinfektan di destinasi wisata tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan selalu memperhatikan penerapan protokol kesehatan," kata Jemmy.

Di sisi lain, Jemmy menyebut jika Kemenparekraf/Baparekraf juga memfasilitasi kegiatan bimbingan teknis dengan tema fotografi menggunakan smartphone. Para peserta diberikan pelatihan singkat oleh narasumber fotografer yang sudah berpengalaman untuk memfoto produk-produk ekonomi kreatif.

"Selain itu juga diajarkan cara memasarkan produk-produk ekonomi kreatif melalui media sosial dengan menggunakan teknik-teknik foto dengan ponsel. Bagaimana foto tersebut akan menjadi menarik dan orang akan suka. Tujuannya tentu untuk meningkatkan penghasilan pada saat kondisi dan adaptasi kebiasaan baru," papar dia.

Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Prof I Gede Pitana mengungkapkan, kegiatan yang digagas Kemenparekraf/Baparekraf ini sangat baik dalam rangka menyiapkan diri menyambut kebangkitan pariwisata.

"Saya optimistis dengan normal baru, dengan kebiasaan baru, pariwisata akan kembali bangkit walaupun dengan gaya dan cara yang tidak sama. Oleh karena itu, persiapan berbagai kegiatan untuk menyongsong hal tersebut sangatlah penting," ujar I Gede Pitana.

Lebih lanjut I Gede Pitana mengatakan, pelatihan fotografi menggunakan ponsel pintar ini merupakan hal yang baru, sebab biasanya ketika berbicara fotografi maka orang akan membayangkan menggunakan kamera DLSR. Padahal, kata dia, kamera ponsel pun sudah bisa digunakan mengambil foto dengan kualitas baik.

"Saya harapkan kegiatan seperti ini semakin banyak ditampilkan dan melibatkan orang yang lebih banyak. Jadi semakin banyak kita lakukan, semakin banyak potensi-potensi entrepreneur baru yang kita dapatkan," ujar I Gede Pitana.

Baca juga: Kemenparekraf fasilitasi 100 pelaku usaha di Bali bentuk badan hukum

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan, I Gede Sukanada, menyampaikan kegiatan yang diadakan oleh Direktorat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf di Kabupaten Tabanan ini merupakan yang ketiga kalinya. Yang pertama diselenggarakan di Pura Ulun Danu dan yang kedua di Jatiluwih. Saat ini kegiatan dilaksanakan di Desa Kerobokan.

'Kegiatan ini bagi kami merupakan persiapan untuk meningkatkan dan mempersiapkan diri termasuk kualitas dan kuantitas sumber daya manusia menyambut pariwisata pascapandemi," ujar I Gede Sukanada.

Kegiatan ini, ia melanjutkan, bisa dijadikan momentum dan awal yang baik untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Ke depan, kita harus menyiapkan diri terhadap perubahan teknologi. Kalau kita memiliki potensi yang begitu besar dan luar biasa tetapi tanpa didukung oleh sumber daya manusia dan juga teknologi kita akan tidak ada apa-apanya," katanya.

I Gede Sukanada juga mengajak seluruh stakeholder pariwisata di Bali agar jangan meninggalkan roh pariwisata Bali seperti adat, budaya, dan keramahtamahan.

“Selama ini, itulah yang kita banggakan dan jangan biarkan menyusut. Salah satunya adalah budaya gotong royong," kata dia.

Baca juga: Kemenparekraf: Perlu strategi buat konten menarik promosikan wisata
Baca juga: Kemenparekraf revitalisasi gerai kuliner di Labuan Bajo NTT