Kemenparekraf cari solusi tekan biaya produksi UMKM yang meningkat

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) gerak cepat turut mencari solusi mengatasi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi terhadap biaya produksi produk-produk UMKM dan ekonomi kreatif lainnya.

Menteri Parekraf RI Sandiaga Uno saat berkunjung ke Jambi, Minggu mengatakan, Kemenparekraf langsung turut sigap menanggapi dan memberikan solusi dengan mulai mendata siapa saja pelaku UMKM yang perlu mendapat bantuan bantalan sosial.

"Sehingga re-alokasi BBM ini tepat sasaran, menyentuh masyarakat pelaku pariwisata ekraf terdampak," katanya di sela acara Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) di Kota Jambi.

Sandi menegaskan, upaya-upaya itu dilakukan agar target penciptaan 1,1 juta lapangan kerja baru di sektor UMKM bisa tetap terwujud dan pada 2024 target lapangan kerja diharapkan bertambah 4,4 juta lapangan kerja baru.

Sandi menegaskan, Kemenparekraf RI akan hadir dengan program-program yang memberikan solusi kepada para pelaku UMKM menyikapi meningkatnya harga produksi UMKM yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM bersubsidi. Namun pihaknya juga akan memberikan solusi agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Terkait kenaikan harga BBM dan dampaknya pada pariwisata, Sandi menegaskan bahwa Jambi dengan tingkat inflasi yang tinggi harus melakukan antisipasi khususnya di destinasi wisata yang memiliki keunggulan, seperti Muarojambi dan Kerinci.

"Destinasi wisata ini harus bisa memastikan bahwa produksi dan kelengkapan destinasi tidak terkerek harganya oleh inflasi karena daya beli masyarakat yang masih terbatas," tegasnya.

Kemenparekraf, kata dia, akan memberikan solusi bagaimana UMKM menekan biaya produksi, menekan untuk produk kemasan ekraf dengan memberikan bantuan pendanaan, permodalan agar arus kas yang terdampak karena peningkatan BBM ini bisa diringankan.

"Sehingga dengan kita kerja bersama, kita harapkan efek BBM tidak akan terasa berat," jelasnya.

Baca juga: Pengamat: Kenaikan harga BBM akan berdampak inflasi capai 6-8 persen
Baca juga: Pengusaha: kenaikan BBM moderat, tetapi dampaknya perlu dikendalikan
Baca juga: Aviliani: Pemerintah harus beri pemahaman masyarakat soal kenaikan BBM