Kemenparekraf dukung pemanfaatan wayang sebagai atraksi wisata budaya

Budi Suyanto
·Bacaan 3 menit

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung pemanfaatan wayang sebagai atraksi pariwisata budaya yang diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

"Menjadikan seni pertunjukan wayang sebagai atraksi wisata budaya merupakan hal tepat yang dilakukan karena dapat menarik wisatawan untuk datang," kata Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf/Baparekraf, Wawan Gunawan, Selasa.

Wawan melanjutkan, wayang merupakan nilai luhur adiluhung bangsa. Dalam pengembangan wayang, seluruh unsur yang dimiliki manusia terepresentasi di dalamnya.

Menurut dia, perlu upaya untuk melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan wayang sebagai warisan budaya sebagimana ditetapkan UNESCO.

Baca juga: Wayang Jogja Carnival diusulkan menjadi agenda nasional

Indonesia, Wawan melanjutkan, memiliki banyak jenis wayang sedikitnya ada 100 jenis wayang yang menjadi kekayaan Indonesia.

Dari jumlah itu, lima jenis wayang ada lima jenis wayang dijadikan penelitian oleh UNESCO meliputi Wayang Kulit Purwa Jawa, Wayang Parwa dari Bali, Wayang Golek Sunda dari Jawa Barat, Wayang Palembang dari Sumatera Selatan, dan Wayang Banjar dari Kalimantan Selatan.

Pihaknya mendukung event virtual pertunjukan wayang yang menghadirkan tokoh maestro seni tari Jawa Barat Prof. Endang Caturwati dari ISBI Bandung.

Event yang mengangkat tema "Merajut Kasih, Menyulam Cinta", dan Ki Dalang Kondang Wawan Ajen dari Kota Bekasi, menyuguhkan kupasan seni pertunjukan wayang dengan tema dari renungan "Dalang Manjing Wayang, Wayang Manjing Dalang" itu akan digelar secara virtual pada Jumat (8/1).

Tema tersebut bermakna kesatuan hubungan yang melebur secara harmonis.

“Dalam mengembangkan wayang kami membaca tradisi dengan cara-cara modern, mengedepankan konsep 5R dan 5W. 5R yakni Raga, Ruh, Rasa, Rasio dan Rukun. Sedangkan 5W yaitu Wirahma, Wirasa, Wirupa, Wiraga dan Wiwaha," kata Wawan.

Baca juga: Lihat 6.000 koleksi Museum Wayang yuk...


Selain itu, Wawan melanjutkan, langkah itu bisa menjadi ajang pengenalan kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia kepada masyarakat global dan merupakan sarana pelestarian budaya.

Menurut Wawan, dalam perenungannya ada nilai-nilai positif yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan wayang yakni nilai spiritual, nilai budaya, nilai kreatif, nilai komunikasi,nilai ekonomi, nilai komitmen, dan nilai keberlanjutan.

"Itu yang kami sebut sebagai spirit sapta ajen. Sebagai seni adiluhung, maka kami mendorong pemanfaatan wayang sebagai sarana dan prasarana mewujudkan spirit sapta ajen tersebut, bagaimana wayang, baik seni rupanya, pertunjukan sebagai pertunjukan yang lebih atraktif dan komunikatif, khususnya kaum milenial, dan menjadikan seni wayang sebagai atraksi pariwisata yang dapat menyejahterakan masyarakat,” kata Wawan.

Di sisi lain, Wawan menilai di tengah keterbatasan pada masa pandemi COVID-19 ini pelestarian dan pengembangan wayang sebagai peluang untuk pengembangan kreativitas seni wayang dengan melakukan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.

Acara digarap secara virtual dengan menghadirkan orasi budaya dari maestro seni rupa ITB Setiawan Sabana dengan mengupas Kembara Kriya Sejagat Nusantara, mengenang, merenung, memandang, dan menerawang.

“Kebudayaan Nusantara adalah cermin diri tentang masa lampau. Curahkan energi kreatif kita sekarang untuk masa mendatang,” ungkap Setiawan Sabana.

Endang Caturwati, Pendiri Ajang Kreativitas Seni Hapsari, yang berkiprah selain mengadakan pelatihan seni tari dan karawitan pada guru-guru seni budaya juga mengadakan berbagai pertunjukan, serta menciptakan beberapa repertoar karya-karya tari dan lagu, menyebutkan, bahwa pada dasarnya setiap pertunjukan seni otentik, tumbuh, dan berkembang sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya yang bisa memenuhi fungsi sosial.

"Pembelajaran seni mampu menjadi media penanaman nilai-nilai kehidupan secara kontekstual sehingga dapat membantu proses terbentuknya kepribadian. Suatu proses yang menempatkan seni pada bingkai kebudayaan, serta nilai-nilai kearifan lokal, sebagai ketahanan budaya Indonesia,” ungkap Endang Caturwati.