Kemenparekraf dukung restorasi film untuk bangkitkan bioskop nasional

·Bacaan 1 menit

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menilai bahwa restorasi film-film lawas dapat kembali membangkitkan bioskop nasional yang terdampak akibat pandemi COVID-19.

Direktur Industri Kreatif Film, Televisi, dan Animasi Kemenparekraf Syaifullah Agam mengatakan pihaknya mendukung penuh upaya restorasi film lawas nasional yang berkualitas, seperti "Tjoet Nya' Dhien".

Menurut dia, hal ini juga dilakukan untuk mendorong masyarakat untuk menonton film nasional ke bioskop.

Baca juga: Kemenparekraf optimistis industri fesyen modest kian bertumbuh

"Kita mendukung misalnya nanti banyak pejabat pemerintah melakukan nobar (nonton bareng). Ini bukan hanya mendukung film itu, tapi mengkampanyekan bagaimana menonton film Indonesia di bioskop. Supaya bioskop yang merupakan mata rantai industri film dapat bergerak," kata Syaifullah Agam kepada ANTARA, Kamis.

Syaifullah Agam menambahkan bahwa saat ini industri perfilman Indonesia telah menyumbang pemasukan terhadap produk domestik bruto sebesar Rp15 triliun.

Selain itu, pemutaran kembali film lawas berkualitas yang telah direstorasi seperti "Tjoet Nya' Dhien" dapat menjadi pembelajaran terutama bagi generasi muda saat ini.

"Film-film bagus tadi bisa dijadikan pembelajaran buat kita tidak hanya dari isi cerita, tapi bagaimana film itu diproduksi. Jadi kita punya pembelajaran bagi teman-teman kita, tidak hanya menyantap film luar," ujar Syaifullah.

Syaifullah mengatakan bahwa dirinya bersyukur ada film lawas berkualitas yang direstorasi kembali. Menurut dia, sineas Indonesia memiliki banyak film-film lawas berkualitas yang secara isi cerita masih relevan dengan kondisi saat ini.

"Film zaman dahulu masih bagus-bagus harusnya dilestarikan karena sayang kalau itu hilang," kata Syaifullah.

Baca juga: Potensi pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia dipamerkan di Dubai

Baca juga: Kemenparekraf fasilitasi audit surveillance ITDC The Nusa Dua Bali

Baca juga: Kemenparekraf mulai ajang Konferensi Internasional di lima DSP