Kemenperin angkat potensi IKM tekstil serat nanas

Kementerian Perindustrian mengangkat potensi Industri Kecil Menengah (IKM) tekstil berbahan baku serap nanas, sebagai upaya mendorong mendorong industri untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular.

“Pelaku IKM dituntut untuk dapat beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar dan dapat bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pelaku industri besar maupun produk yang berasal dari luar negeri. Hal inilah yang mendorong kami untuk berkomitmen terus mengembangkan potensi IKM yang ada di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita lewat keterangannta di Jakarta, Rabu.

Menurut Reni, salah satu potensi yang dapat digarap oleh pelaku IKM adalah dengan menggali bahan baku lokal yang menjadi kekayaan kearifan daerah tersebut. Misalnya, membuat kain tradisional sebagai identitas dan ciri khas produk pakaian jadi dalam negeri.

“Sebagai contoh, dengan memanfaatkan serat daun nanas sebagai salah satu serat tumbuhan yang dapat diolah menjadi kain tenun atau kerajinan lainnya. Di Indonesia, tanaman nanas banyak dibudidayakan di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera, salah satunya di Kota Prabumulih,” ungkapnya.

Pemanfaatan serat nanas oleh kelompok IKM di Kota Prabumulih harus terus dimaksimalkan sesuai dengan prinsip efisiensi dan efektivitas terhadap penggunaan sumber daya alternatif yang berkelanjutan.

"Ini sesuai dengan konsep ekonomi sirkular atau industri hijau yang digulirkan oleh Kemenperin dan adaptasi di tengah green lifestyle,” ujar Reni.

Kemenperin melalui Direktorat Jenderal IKMA rutin menggelar program penumbuhan dan pengembangan wirausaha baru (WUB) di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Prabumulih yang terkenal dengan potensi serat alam dari nanas.

“Serat alam sangat erat kaitannya dengan sektor industri tekstil dan pakaian jadi, yang perannya sangat besar bagi perekonomian nasional,” tutur Reni.

Kemenperin mencatat, laju pertumbuhan sektor industri tekstil dan pakaian jadi pada triwulan III-2022 mencapai angka 8,09 persen.

Sementara itu, kinerja ekspor sektor industri tekstil dan pakaian jadi pada periode Januari-Juni 2022 sebesar 7,4 miliar dolar AS, meningkat 26,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu di angka 5,85 miliar dolar AS.

Reni mengungkapkan, penggunaan serat daun nanas untuk diolah menjadi bahan baku tekstil merupakan salah satu contoh implementasi sustainable fashion dari segi pemanfaatan bahan baku alternatif untuk meningkatkan daya saing industri tekstil dan pakaian jadi pada masa mendatang.

“Fesyen berkelanjutan ini dapat pula diaplikasikan dengan penggunaan fiber rayon yang ramah lingkungan, pengolahan dari limbah plastik, serta pengolahan bahan baku dari sisa tekstil (benang atau kain),” imbuhnya.

Reni terus berkolaborasi dengan berbagai pihak demi mengembangkan potensi IKM serat nanas di sektor industri tekstil nasional agar para pelaku IKM yang berusia muda semakin kreatif dan inovatif.

“Pelaku IKM yang sistem produksi dan promosinya masih tradisional harus dikolaborasikan dengan industri lain dan desainer muda,” lanjut Reni.

Dalam kunjungannya di Kota Prabumulih, Reni bertemu dengan dua kelompok IKM penghasil serat alam nanas dan menyerahkan fasilitas mesin dekortikor (pemecah serat alam) kepada kelompok IKM tersebut.

Kelompok serat nanas Riyadi yang terdiri atas empat anggota akan menerima satu unit dekotikator, dan kelompok serat nanas Sejahtera yang terdiri atas enam anggota akan menerima dua unit mesin.

“Kemenperin sebagai fasilitator nantinya akan sangat membutuhkan bantuan Pemerintah Daerah untuk membina dan mengawasi perkembangan WUB IKM yang telah difasilitasi melalui pelatihan bimbingan teknis maupun fasilitasi mesin peralatan ini,” kata Reni.

Baca juga: Kemenperin mitigasi perlambatan industri TPT dan alas kaki

Baca juga: Menperin: Sektor industri tumbuh moncer pada triwulan III 2022

Baca juga: Kemenperin gandeng para ahli, siapkan Indeks Kepercayaan Industri