Kemenperin apresiasi MSM kembangkan industri gula di kawasan terpencil

·Bacaan 2 menit

Kementerian Perindustrian mengapresiasi PT Muria Sumba Manis (MSM) mengembangkan industri gula di kawasan terpencil, karena mendukung upaya pemerintah dalam pemerataan ekonomi di wilayah timur Indonesia.

"Kami harapkan adanya investasi ini dapat membantu upaya swasembada gula serta meningkatkan ekonomi daerah dan menyejahterakan warga di sekitar," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika saat melakukan kunjungan kerja ke MSM di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Jumat.

Putu menyampaikan, pemerintah akan terus berkomitmen untuk mendukung MSM dengan kebijakan kebijakan strategis, baik fiskal maupun nonfiskal yang tersedia.

Menurut Putu, industri pergulaan nasional pada saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, di antaranya kemampuan produksi pabrik gula eksisting yang masih rendah dengan rata-rata hasil produksi untuk lima tahun terakhir sekitar 2,2 juta ton per tahun.

Angka tersebut masih jauh di bawah total kebutuhan nasional yaitu 6 juta ton, yang meliputi 2,8 juta ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi langsung dan 3,2 juta ton untuk memenuhi kebutuhan industri makanan, minuman dan farmasi. Dengan demikian, kekurangannya sebanyak 3,8 juta ton gula masih dipenuhi dari impor.

"Peningkatan kebutuhan gula ini perlu diimbangi dengan pengembangan dan pembangunan industri gula baru yang terintegrasi dengan perkebunan tebu, sehingga pemerintah melakukan upaya pengembangan industri gula dengan memberikan fasilitas dan insentif," ujar Putu.

Untuk itu, Putu menyampaikan bahwa keberanian dalam mendirikan pabrik gula baru tersebut patut diapresiasi dan hargai karena proses pembangunan pabrik gula membutuhkan usaha yang luar biasa baik dari investasi maupun kendala yang dihadapi, apalagi untuk pabrik gula baru yang berlokasi di daerah terpencil.

"Harapan kita, dengan adanya peningkatan produksi yang disumbang dari pabrik gula baru ini diharapkan akan mengurangi impor, di mana hal ini sejalan dengan program substitusi impor yang disusun oleh Kementerian Perindustrian," ujarnya.

Dengan mengurangi impor, tambah Putu, Indonesia bisa menghemat devisa negara, memperkuat neraca transaksi berjalan, membuka lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya akan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian.

MSM membangun pabrik gula terintegrasi di Wanga, Sumba Timur, NTT. Perusahaan yang memproduksi gula kristal putih tersebut menyerap 2.511 tenaga kerja hingga 2021.

Managing Director MSM Budi Hediana memaparkan bahwa di tahap pertama, investasi MSM di Sumba Timur mencapai Rp4,4 triliun dengan kapasitas produksi 6.000 ton cane per day (TCD).

"Untuk tahap kedua, investasi kami mencapai Rp5,1 triliun dengan kapasitas 12.000 TCD," katanya.

Budi berharap investasi MSM di daerah terpencil dapat menggerakkan perekonomian setempat dan menarik investasi baru.

"Ini cukup berat karena kami berada di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Kami ingin membalik Sumba Timur menjadi berdaya," pungkasnya.

Baca juga: Kemenperin: Investasi gula UEA hasilkan produk turunan bioetanol
Baca juga: Kemenperin jamin ketersediaan bahan baku gula konsumsi dan rafinasi
Baca juga: Kemenperin monitor produktivitas pabrik gula rafinasi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel