Kemenperin dorong industri gula dalam negeri lebih berdaya saing

·Bacaan 2 menit

Kementerian Perindustrian mendorong pengembangan industri gula agar bisa lebih produktif dan berdaya saing, sehingga bisa memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri menuju swasembada khususnya gula konsumsi nasional.

“Industri gula juga merupakan salah satu sektor strategis bagi negara, karena merupakan komoditas yang mempunyai peranan penting bagi upaya ketahanan pangan dan peningkatan pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia,” kata Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Putu menyampaikan berbagai program dan kebijakan yang telah dijalankan, termasuk untuk program revitalisasi dan memacu kebijakan investasi di sektor kritikal tersebut.

Dirjen Putu beserta jajaran melakukan kunjungan kerja di pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), yang berlokasi di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan itu dalam rangka meninjau langsung perkembangan produktivitas pabrik gula berbasis tebu yang di bangun di daerah remote di kaki gunung Tambora.

“Kami sangat mengapresiasi hadirnya pabrik gula PT SMS di luar Pulau Jawa ini, karena merupakan suatu terobosan atau langkah yang berani membangun pabrik gula di lokasi yang curah hujannya tergolong rendah dan masyarakatnya yang saat itu belum banyak mengetahui cara menanam tebu,” papar Putu.

Beroperasi sejak 2017, saat ini aktivitas SMS telah membawa dampak yang luas bagi perekonomian masyarakat sekitar perusahaan, terutama para mitra petani tebunya. Selain itu, kehadiran PT SMS turut memberikan kontribusi signfikan terhadap pendapatan daerah.

“Kami juga mengapresiasi SMS yang telah melakukan program kemitraan secara baik dengan para petani tebunya. Hal ini membawa manfaat besar terhadap kesejahteraan masyarakat setempat,” ungkap Putu.

SMS telah menyerap lebih dari 500 karyawan dan melibatkan lebih dari 1.400 petani tebu mitra dengan luas tanam 1.780 hektare.

Adapun mitra petani tebu meliputi 12 desa, antara lain di wilayah timur perusahaan dengan potensi luas lahan 4.751 hektare, mencakup empat desa, yaitu Soritatangga, Doropeti, Nangakara, dan Sorinomo.

Berikutnya, untuk wilayah barat perusahaan dengan potensi luas lahan 7.130 hektare, terdapat delapan desa, yaitu Beringin Jaya, Pekat, Calabai, Karombo, Kadindi Barat, Kadindi Timur, Nangamiro, dan Tambora.

Guna mendorong peningkatan produktivitasnya, SMS berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan para petani dengan program pelatihan dan pengetahuan terkait budi daya tebu.

Saat ini, SMS telah berhasil menanam tebu di area perkebunannya sendiri seluas 2.518 hektare dari total HGU 5.500 hektare. Pada 2021, dari total luas tanaman tebu baik di lahan milik sendiri maupun hasil kemitraan seluas 4.298 hektare yang bisa dipanen untuk produksi gula sebesar 2.450 hektare dan sisanya untuk bibit.

“Perusahaan telah memiliki teknologi proses produksi yang memadai, dengan kapasitas terpasang mencapai 6.000 TCD,” tutur Direktur Operasional SMS Izmirta Rachman.

Berdasarkan data taksasi tengah giling pada 2021, SMS memperkirakan produksi gula kristal putih (GKP) dari tebu sebesar 10.723 ton atau meningkat cukup signifikan dibandingkan 2020 dengan produksi GKP sebesar 2.816 ton.

Baca juga: Kemenperin terima 150 unit konsentrator oksigen dari asosiasi gula
Baca juga: Kemenperin periksa ketersediaan gula bahan baku industri di Jawa Timur
Baca juga: Kemenperin: Pasokan gula rafinasi aman, pabrik tak perlu khawatir

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel