Kemenperin: Manufaktur RI dalam kesiapan awal menuju Industri 4.0

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Berbagai jenis industri manufaktur di Indonesia dinilai masih dalam posisi kesiapan awal menuju penerapan Industri 4.0 sehingga perlu lebih ditingkatkan sinergi antara berbagai pilar pemangku kepentingan sektor industri nasional.

"Secara umum industri manufaktur di Indonesia dalam posisi kesiapan awal untuk bertransformasi menuju Industri 4.0," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sony Sulaksono dalam webinar tentang Inovasi Industri Dalam Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Selasa.

Menurut Sony Sulaksono, hal tersebut dapat terlihat dari kajian sejumlah aspek seperti dari manajemen organisasi, produk dan layanan, hingga teknologi serta operasi pabrik yang dilakukan di berbagai bidang industri di Tanah Air.

Sony berpendapat bahwa kegiatan inovasi yang melekat erat dengan industri 4.0 tidak bisa berdiri sendiri karena ada berbagai pilar penting yang menciptakan agar suatu ekosistem industri dapat kondusif dalam mewujudkan Industri 4.0.

Baca juga: Indonesia terpilih jadi pemimpin Dewan Pembangunan Industri UNIDO

"Kami menyadari kegiatan inovasi itu tidak bisa berdiri sendiri, dia harus dibentuk dalam suatu ekosistem yang melibatkan berbagai pilar seperti pemerintah, aktor finansial, penyedia teknologi, industri atau asosiasi, akademisi, dan grup konsultan," paparnya.

Pihaknya telah melakukan berbagai kebijakan untuk mewujudkan Industri 4.0 antara lain memberikan insentif super deduction tax bagi perusahaan industri yang melakukan riset teknologi, pendampingan transformasi industri, pelatihan sertifikasi manager, dan tenaga ahli transformasi Industri 4.0, hingga pembangunan platform ekosistem inovasi seperti e-Smart IKM, serta pembangunan pusat inovasi industri digital 4.0.

Sony mengungkapkan dari berbagai sektor yang terkait Making Indonesia 4.0, ada tiga sektor yang sangat terdampak pandemi COVID-19 yaitu otomotif, tekstil, dan elektronika.

Pembicara lainnya Direktur Inovasi Industri Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN Santoso Yudo Warsono mengingatkan bahwa anggaran untuk bidang litbang baru sekitar 0,25 persen dari PDB dan tersebar di berbagai kementerian/lembaga.

Baca juga: Kemenperin pacu startup jadi implementator Industri 4.0 bagi IKM

Hambatan lainnya, ujar Santoso, adalah masih banyaknya infrastruktur iptek yang belum memenuhi standar dari industri.

"Ke depan kami harus memprioritaskan inovasi yang berbasis kerja sama dengan industri," katanya.

Ia menegaskan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk mendorong inovasi perlu dilakukan melalui alih teknologi, intermediasi teknologi, difusi iptek, dan komersialisasi, serta selalu ingat bahwa masyarakat harus menjadi pusat dari inovasi.

Baca juga: Kemenperin: Pelaku industri perlu manfaatkan teknologi di semua lini

Peneliti Senior CSIS Haryo Aswicahyono menyatakan interaksi antara manusia dan mesin sekarang menjadi jauh lebih intens dari sebelumnya contohnya dengan penerapan internet of things (IoT).

Haryo berpendapat ketertinggalan seperti dalam bidang elektronika dan otomotif memerlukan penguatan SDM yang dapat diatasi dengan mengatasi hambatan masuknya pekerja ahli ke dalam negeri.

Selain itu, ujar dia, permasalahan penting lainnya adalah masih sangat lemahnya kerangka institusional yang diharapkan dapat diperbaiki dengan pemberlakuan Omnibus Law atau UU Cipta Kerja yang telah disahkan.

Baca juga: IPB University terus berupaya hadirkan industri 4.0