Kemenperin optimalkan kerajinan dan batik lewat Innovating Jogja 2021

·Bacaan 3 menit

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mendorong pengembangan sektor kerajinan dan batik, di antaranya dengan memberikan dukungan terhadap inovasi, serta menciptakan ekosistem yang menunjang industri kerajinan dan batik, antara lain melalui ajang Innovating Jogja 2021.

“Innovating Jogja telah dilaksanakan sejak tahun 2016. Pada tahun ini kegiatan difokuskan pada pengembangan usaha tenant yang akan memanfaatkan hasil litbangyasa BBKB dan pengembangan usaha berdasarkan inovasi tenant pada bidang kerajinan dan batik,” ujar Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Doddy Rahadi lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Rabu.

Innovating Jogja 2021 dinisiasi oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta, satuan kerja di bawah BSKJI Kemenperin. Kegiatan itu memfasilitasi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) untuk mengikuti program inkubator bisnis.

“Pada gelaran tersebut, dicari start-up berbasis inovasi di bidang kerajinan dan batik dengan sistem kompetisi,” katanya.

Doddy menjelaskan BBKB Yogyakarta memiliki fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan jasa industri bagi industri kerajinan dan batik, serta hasil-hasil inovasi yang mampu mendukung pengembangan sektor tersebut, sehingga bisa digunakan untuk meningkatkan daya saing komersial, produktivitas, potensi ekspor batik dan kerajinan melalui pendekatan inovasi.

Baca juga: Pacu kerajinan dan batik, Innovating Jogja 2021 siap digelar

“Melalui kegiatan Innovating Jogja 2021 diharapkan hasil-hasil inovasi tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku industri,” katanya.

Innovating Jogja 2021 juga membuka kesempatan bagi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya, berusia di bawah 45 tahun, dan memiliki inovasi serta semangat menjadi wirausaha untuk mengirimkan ide dan inovasi di bidang kerajinan dan batik.

“Melalui kegiatan ini, BBKB Kemenperin akan terus mengawal dan memfasilitasi ide-ide dan inovasi luar biasa yang dilakukan secara mandiri maupun berkolaborasi oleh para pelaku industri,” ujarnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta Titik Purwati Widowati menambahkan pendaftar kegiatan Innovating Jogja tahun 2021 mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan tahun ini ada pendaftar yang berasal dari luar Yogyakarta dan luar Pulau Jawa.

“Tercatat sudah ada 247 pendaftar Innovating Jogja 2021. Dari jumlah tersebut,48 peserta terpilih untuk mengikuti kegiatan workhop business plan secara online. Kemudian panitia menyeleksinya sehingga terpilih 30 peserta yang berhak mengikuti tahap bootcamp Innovating Jogja 2021,” ucapnya.

Baca juga: Kemenperin bina 5 usaha rintisan jebolan Innovating Jogja 2020

Titik menyampaikan selama lima tahun pelaksanaa Innovating Jogja telah menghasilkan 20 tenants dan 113 peserta yang telah mengikuti bootcamp. Ia menambahkan, para lulusan program ini mampu berkembang, bahkan di masa Pandemi COVID-19, antara lain CV Woodeco Indonesia dan Toja Indonesia, yang telah mampu meraih pasar ekspor untuk produk home decoration dan fashion akseroris.

Selain itu CV Woodeco Indonesia mengalami pertumbuhan omset sebesar 163 persen di masa inkubasi 2021. Lalu ada Puspita Indigo berhasil mengembangkan paket produk pewarna alami instan untuk warna biru pada masa inkubasi yang sama, bahkan telah mencapai peningkatan penjualan sebesar 70 persen. Selanjutnya ada Semilir dan Arsty Craft telah mampu meningkatkan penjualan sebesar 30 persen.

“Selain mendorong peningkatan bisnis, kegiatan Innovating Jogja 2021 juga memfasilitasi para tenant untuk meningkatkan kualitas produknya melalui pendampingan penyusunan dokumen sistem mutu, fasilitasi pengujian produk serta sertifikasi produk dan hak kekayaan intelektual,” ujarnya.

Baca juga: Innovating Jogja 2020 upaya Kemenperin pacu lahirnya IKM baru

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel