Kemenperin optimis ekspor coklat terjaga di tengah potensi resesi

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika optimis ekspor coklat tetap akan terjaga di tengah potensi resesi yang terutama dialami negara-negara Eropa pada 2023 mendatang.

“Beda sekali pola konsumsi coklat dengan produk lain. Kalau orang stres, ia akan banyak mengkonsumsi coklat sehingga kita tidak khawatir dengan pertumbuhan ekspornya,” katanya dalam konferensi pers Peringatan Hari Kakao Indonesia 2022 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu.

Ia menyebut sebanyak 85 persen produk kakao intermediate diekspor ke 96 negara atau volumenya mencapai 319,43 ribu ton dengan nilai mencapai 1,08 miliar dolar AS.

Kegiatan promosi terkait produk kakao Indonesia berkualitas tinggi pun akan terus dilakukan.

“Mudah-mudahan ini akan meningkatkan konsumsinya. Kita akan terus melakukan sosialisasi kemampuan Indonesia menghasilkan coklat berkualitas,” ucapnya.

Adapun pasar ekspor masih menjadi fokus utama industri kakao intermediate, sementara konsumsi dalam negeri diyakini akan terus bertumbuh seiring dengan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.

“Ini sudah kita siapkan untuk memenuhi peningkatan permintaan karena Indonesia menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke tujuh di dunia. Dari sisi produksi, kita sudah melakukan penguatan-penguatan dengan berbagai model pengembangan,” katanya.

Pemerintah juga terus membuka investasi pada industri kakao dengan memberikan insentif, terutama untuk meningkatkan produksi dan utilisasi setiap pabrik yang saat ini rata-rata baru mencapai 54 persen.

“Jadi ruang produksi masih besar, pasarnya juga terbuka. Sehingga kita coba ngobrol dengan Kementerian Pertanian juga untuk meningkatkan bahan baku guna memenuhi kebutuhan,” ucapnya.

Baca juga: Kementan sebut diperlukan kolaborasi tingkatkan produktivitas kakao
Baca juga: Kemenperin: 85 persen produk kakao intermediate diekspor ke 96 negara
Baca juga: Kakao fermentasi asal Jembrana-Bali tembus pasar Jepang