Kemenperin: OVOP hasilkan produk IKM berkearifan lokal berkelas global

Ahmad Wijaya
·Bacaan 2 menit

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan sektor industri kecil menengah (IKM) agar lebih produktif dan berdaya saing, antara lain melalui pendekatan One Village One Product (OVOP) yang mampu menghasilkan produk berbasis kearifan lokal.

“OVOP merupakan model pembinaan yang bertujuan meningkatkan ekonomi suatu daerah dengan menghasilkan produk kearifan lokal berkelas global yang menekankan pada pemanfaatan sumber daya lokal,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan kisah sukses program OVOP telah dimulai sejak tahun 1979 di Prefektur Oita, Jepang, yang kemudian bahkan diadopsi oleh Thailand dengan jargon One Tambon One Product (OTOP) dan berhasil mempopulerkan produk olahan buah, kain sutra dan gerabah Thailand.

Gati optimistis pendekatan OVOP ini akan juga berhasil di tanah air karena Indonesia memiliki potensi yang sangat luas baik dari sumber daya alam, sumber daya manusia dan kearifan lokalnya.

“Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan budaya mulai dari ujung Pulau Sumatera sampai Papua, yang bila didukung pengelolaannya dengan tepat, IKM kita bisa menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di daerah, khususnya dalam upaya pemulihan ekonomi nasional,” tutur Gati melalui keterangan tertulis.

Tahun ini program OVOP yang diselenggarakan oleh Kemenperin berfokus pada lima komoditas, yaitu makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman dan gerabah.

“Kearifan lokal Indonesia banyak tercermin pada kelima komoditas tersebut," kata Gati.

Menurut dia, salah satu wilayah yang punya potensi besar adalah di Sumatera, karena dari total 112 pelaku IKM yang mendapat penghargaan OVOP pada tahun 2018, sebanyak 67 pelaku IKM (59,82%) berasal dari wilayah Sumatera.

Komoditas makanan dan minuman dan kain tenun begitu mendominasi produk IKM OVOP di wilayah Sumatera.

“Siapa yang tak kenal keripik sanjai asal Sumatera Barat yang telah menjadi oleh-oleh wajib bagi setiap pelancong yang mengunjungi Sumatera Barat. Di daerah tersebut juga ada rendang yang bahkan pernah ditayangkan secara eksklusif dalam program televisi CNN Travel,” ungkap gati.

Sementara itu kain ulos dari Sumatera Utara juga sudah tak asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, kata dia, tenun songket sudah identik pula dengan khazanah kain asal Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

“Dalam sesi kedua program sosialisasi OVOP yang dilaksanakan di Kota Padang, IKM OVOP yang dapat bintang 5 dengan komoditas kain tenun songket, yaitu Fatimah Sayuthi, turut hadir untuk berbagi pengalaman dalam upaya pengembangan usaha dan mempertahankan prestasinya tersebut,” ujar Gati.

Selama ini, lanjut dia, Kemenperin telah mendukung industri tenun melalui berbagai program, mulai dari pelatihan, fasilitasi sarana produksi, pendampingan desainer dan tenaga ahli, serta partisipasi pameran.

“Kami juga memfasilitasi perlindungan Indikasi Geografis Tenun Gringsing Bali pada tahun 2016 dan Tenun Doyo Benuaq Tanjung Isuy Jempang Kutai Barat, Kalimantan Timur pada tahun 2019,” ujar Gati.

Ia berharap usulan IKM OVOP dapat lebih banyak lagi sehingga nantinya diperoleh pelaku IKM yang berdaya saing dan mampu menembus pasar internasional sehingga mengharumkan nama Indonesia.

Baca juga: Gelar Penghargaan OVOP 2021, Kemenperin identifikasi IKM daerah
Baca juga: Kemenperin pacu IKM "go global" melalui konsep OVOP