Kemenperin: Pendidikan vokasi sesuaikan keterampilan dan dunia kerja

Kementerian Perindustrian memandang bahwa pendidikan vokasi dapat menyesuaikan keterampilan sumber daya manusia dengan kebutuhan dunia kerja di mana sebagai bagian integral dari arsitektur pendidikan nasional, Pendidikan dan Pelatihan Vokasi (TVET) dapat meningkatkan kualitas dan daya saing SDM di Indonesia.

Hal tersebut untuk memastikan tenaga kerja memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi pekerjaan hari ini dan masa depan.

“TVET dapat menghubungkan siswa dengan industri dan membekali mereka dengan keterampilan praktis yang diperlukan industri,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Arus Gunawan lewat keterangannya di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan studi McKinsey, adanya otomatisasi akan menggantikan 23 juta pekerjaan di Indonesia pada tahun 2030. Namun sisi positifnya, sebanyak 46 juta pekerjaan baru akan tercipta jika Indonesia mampu mengimbangi transformasi ini.

“Dengan pergeseran struktural tersebut, keterampilan yang dibutuhkan industri juga ikut berubah,” ujar Arus.

Arus menyampaikan World Economic Forum telah memperkirakan bahwa ada sepuluh keterampilan teratas yang dibutuhkan pada tahun 2025, antara lain kemampuan analitis, pemecahan masalah yang kompleks, kreativitas, dan orisinalitas.

“Untuk memanfaatkan keuntungan dari mega tren ini, Indonesia harus meningkatkan produktivitas pekerjanya, termasuk di sektor industri,” ungkapnya.

Oleh karena itu, BPSDMI Kemenperin menjalin kerja sama dengan Prospera, Katalis dan Pemerintah Australia untuk menyelenggarakan Industrial Vocational Week 2022 Side-event: Matching skills with future of work.

“Membangun ekosistem TVET yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha industri tidaklah mudah. Oleh karena itu, meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dengan semua pihak sangatlah penting,” imbuhnya.

Tim Stapleton, Minister-Counsellor (Economic, Infrastructure and Investment) di Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengemukakan, melalui program Prospera dan Katalis, Pemerintah Australia mendukung upaya Indonesia untuk menyesuaikan keterampilan dengan pekerjaan di masa depan.

Sebanyak 200 peserta mengikuti seminar tersebut, baik secara daring maupun luring. Para peserta antara lain berasal dari satuan pendidikan di lingkungan Kemenperin, mitra industri, dan perwakilan kementerian dan lembaga terkait.

Selain itu, dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), Asian Development Bank, VAPRO International Indonesia, Program Reformasi Sistem TVET-GIZ, ILO, TVET System Reform Program-GIZ, ILO, Swiss Skills for Competitiveness Program (S4C), ADB, UNESCO-UNEVOC, dan ASEAN Secretariat.

Direktur Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Mahatmi Parwitasari Saronto menyampaikan, pemerintah terus berupaya untuk merevitalisasi semua komponen sektor vokasi dan memastikannya berorientasi pada permintaan.

"Ini akan dilakukan melalui sistem informasi pasar tenaga kerja, rebranding lembaga TVET, reformasi institusi dan fasilitas TVET, mendesain ulang program TVET, merevitalisasi infrastruktur, reorientasi sumber daya manusia, serta meningkatkan kerja sama dan kolaborasi di antara semua pemangku kepentingan,” tutur Mahatmi.

Sementara itu, Katalis menempatkan penyedia keterampilan Australia ke platform digital Indonesia dan mengembangkan platform Indonesia-Australia Exchange.

Pencari kerja Indonesia dapat melakukan reskill atau upskill dengan mengakses pelatihan online yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kerangka waktunya.

“Katalis berfokus untuk mendukung pekerja Indonesia untuk mendapatkan keterampilan yang mereka perlukan agar dapat melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik dengan membawa penyedia TVET Australia untuk mengisi kesenjangan konten dan penyampaian pelatihan,” ujar Lead Advisers (Skills) Katalis, Clarice Campbell.

Baca juga: Kemenperin gandeng industri terapkan pendidikan vokasi sistem ganda
Baca juga: Pemerintah dorong peningkatan kualitas SDM dan pendidikan vokasi
Baca juga: Cetak SDM berdaya saing, Kemenperin tetapkan "Corporate University"