Kemenperin sebut industri refraktori strategis penopang manufaktur

·Bacaan 2 menit

Direktorat Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam mengingatkan bahwa industri refraktori merupakan salah satu sektor strategis karena produksinya untuk menopang kebutuhan berbagai manufaktur lainnya.

“Hasil dari industri refraktori ini umumnya digunakan sebagai pelapis untuk tungku, kiln, insinerator, dan reaktor tahan api pada industri semen, keramik, kaca dan pengecoran logam,” kata Khayam pada acara penandatanganan MoU Program D1 Keramik dan D1 Refraktori secara virtual, Selasa.

Khayam optimistis apabila industri refraktori ini tumbuh berkembang dan memiliki performa gemilang, akan mendukung kinerja sektor industri pengolahan nonmigas, khususnya kelompok industri bahan galian nonlogam.

“Pada triwulan I tahun 2021 kontribusi industri bahan galian nonlogam terhadap industri pengolahan sebesar 2,57 persen dan perkembangan nilai investasi industri bahan galian nonlogam mencapai Rp5,46 triliun,” katanya.

Baca juga: Kemenperin perkuat rantai pasok industri refraktori

Khayam menambahkan selain refraktori, industri keramik Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-8 dunia dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 538 juta m2 per tahun dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 150.000 orang.

Meningkatnya pembangunan di sektor infrastruktur dan properti, seperti real estate, perumahan, apartmen, dan bangunan lainnya, membuat permintaan pasar dalam negeri semakin bertambah.

“Dalam jangka panjang, industri keramik nasional akan sangat prospektif, mengingat konsumsi keramik nasional per kapita masih sekitar 1,4 m2, yang perlu dioptimalkan lagi karena konsumsi ideal dunia telah mencapai lebih dari 3 m2,” katanya.

Baca juga: Kemenperin pacu subtitusi impor produk refraktori

Ketua Umum Asosiasi Industri Refraktori Indonesia (Asrindo) Basuki menyampaikan terdapat 30 perusahaan yang sudah tergabung dalam asosiasi tersebut.

“Kami mengapresiasi inisiasi Kemenperin dalam membangun iklim usaha yang kondusif melalui penyediaan SDM kompeten untuk meningkatkan daya saing industri refraktori,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengungkapkan lima negara tujuan ekspor utama untuk produk keramik nasional yaitu ke Filipina, Malaysia, Taiwan, Thailand dan Amerika Serikat.

“Lonjakan ekspor terjadi dengan tujuan negara Amerika Serikat mencapai 130 persen, Filipina sekitar 60 persen, dan Taiwan 40 persen,” sebut Edy. Peningkatan ekspor, lanjut dia, juga terjadi di Australia dengan mencapai 50 persen.

Baca juga: Kemenperin berupaya cetak SDM kompeten industri keramik dan refraktori

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel