Kemenperin siap pasok kebutuhan 135.000 tenaga kerja industri TPT

Kementerian Perindustrian menyampaikan siap memasok kebutuhan 135.000 tenaga kerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT), yang salah satunya dilakukan lewat pembangunan unit pendidikan vokasi industri Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta sejak 2015.

Selain itu, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin semakin meningkatkan kualitas Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung yang sudah berdiri selama 100 tahun.

“Bahkan, kami aktif menyelenggarakan Diklat sistem 3 in 1 (Pelatihan, sertifikasi kompetensi dan penempatan kerja) untuk memenuhi tenaga kerja industri TPT tingkat operator,” kata Kepala BPSDMI Kementerian Perindustrian Arus Gunawan lewat keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Arus Gunawan mengemukakan, agar lulusan dari unit pendidikan vokasi industri Kemenperin dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan industri, BPSDMI terus menggandeng pemangku kepentingan industri dalam berbagai forum dan diskusi, yang melibatkan pelaku usaha, industri dan asosiasi mulai dari perencanaan program studi, penyusunan kurikulum, kegiatan pengajaran, kegiatan praktek kerja industri, hingga penyerapan lulusan.

“Untuk itu, kegiatan seperti Temu Industri Akom Tekstil Solo juga menjadi contoh baik yang harus terus dilakukan, karena dapat menyerap aspirasi kebutuhan industri tekstil yang selanjutnya dituangkan dalam rencana pembelajaran,” tutur Arus.
Baca juga: Kemenperin apresiasi industri tekstil bertahan di tengah pandemi

Guna dapat mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja dari lulusan unit pendidikan vokasi industri, Kemenperin melalui Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) BPSDMI menghadirkan Career Development Center (CDC) Unit Pendidikan Kementerian Perindustrian.

“CDC dibangun dengan konsep yang dibuat oleh Skills for Competitiveness (S4C), yang merupakan proyek bilateral antara Swiss dan Indonesia, serta diintegrasikan dengan konsep yang telah disusun oleh tim developer unit pendidikan BPSDMI,” jelas Arus.

CDC akan menjadi integrated platform sekaligus ikon BPSDMI Kemenperin yang juga menjadi role model atau panutan bagi instansi lainnya.

Disebutkan, ada beragam fitur yang dirancang di sistem CDC untuk membantu peserta didik dalam perjalanan karir mereka, seperti fitur Lowongan Kerja, Klinik Vokasi Industri, Tes Minat dan Bakat, Lowongan Prakerin, Kewirausahaan, Beasiswa, dan lain-lain.
Baca juga: Pengusaha yakini industri TPT nasional masih punya masa depan cerah

Selain bermanfaat bagi peserta didik, CDC dapat memberikan angin segar bagi industri karena dengan kehadiran program tersebut, perusahaan bisa mendapatkan tenaga kerja yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan. Selain itu, CDC bisa menjadi wadah atau sarana masukan terkait SDM industri.

“Pemaparan CDC di Temu Industri Akom Tekstil Surakarta beberapa waktu lalu, diharapkan dapat semakin memperkenalkan program tersebut kepada industri, sehingga partisipasi industri dalam program CDC semakin meningkat,” papar Arus.

Selain itu, ujar dia, sosialisasi juga dilakukan agar unit pendidikan vokasi industri Kemenperin dapat segera menerapkan CDC di satuan kerjanya. Saat ini, sebanyak 63,6 persen unit pendidikan tinggi Kemenperin telah menerapkan CDC.

Arus juga mendorong agar Akom Tekstil Surakarta dapat mengimplementasikan Corporate University(CorpU). BPSDMI CorpU berperan sebagai strategi pengembangan pembelajaran individu dan organisasi, dengan pemanfaatan manajemen ilmu pengetahuan dan program-programnya yang berfokus pada tujuan dan strategi organisasi.

“Saya mengingatkan para dosen agar terus mendorong implementasi kebijakan Corporate University di Akom ITPT Surakarta. Karena kebijakan ini telah ditetapkan sejak akhir tahun lalu dan rencana tindak serta target waktu pelaksanaan juga sudah diisi,” ujar Arus.

Baca juga: Mendag lepas ekspor produk tekstil senilai 400 ribu dolar AS