Kemenperin usulkan strategi hilirisasi industri oleokimia

·Bacaan 2 menit

Kementerian Perindustrian mengusulkan tiga strategi hilirisasi industri oleokimia berbasis pengolahan minyak sawit yang menghasilkan produk yang sangat diminati konsumen global di masa pandemi.

"Pertama, perluasan kapasitas produksi dan efisiensi biaya produksi pasca kelanjutan kebijakan harga gas bumi tertentu," kata Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika lewat keterangannya diterima di Jakarta, Jumat.

Kedua, efisiensi bahan baku minyak sawit untuk industri oleokimia melalui penggunaan minyak nabati industri IVO/ILO (Industrial Vegetable Oil/ Industrial Lauric Oil), menggantikan jenis CPO/CPKO food grade yang tentunya berharga lebih tinggi.

Pada 2019, Kemenperin telah memfasilitasi penerbitan standardisasi kualitas produk IVO/ILO melalui SNI No. 8875:2020 minyak nabati industri sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar hijau (green fuel).

Selanjutnya, Kemenperin mengusulkan agar para pelaku industri melakukan komersialisasi hasil riset produk hilir oleokimia menjadi skala industri dengan dibantu jasa fasilitas pilot plant industri yang sedang dibangun di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor milik Kemenperin.

“Pemangku kepentingan bisa memanfaatkan layanan jasa industri berupa pilot plant tersebut untuk mengangkat tingkat kesiapan teknologi dan tingkat kesiapan manufaktur. Hal ini agar hasil pengembangan teknologi oleokimia tidak terhambat proses antara riset skala laboratorium menuju ke komersialisasi industri, atau yang dikenal sebagai fenomena valley of death,” pungkas Putu.

Diketahui, Indonesia dikenal unggul sebagai pemasok minyak sawit di dunia. Pada 2020, total produksi minyak sawit nasional (CPO dan CPKO) mencapai 52,14 juta ton.

Sedangkan menurut data Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin), volume ekspor oleokimia pada Januari-Mei 2021 tumbuh 10,47 persen menjadi 1.664 juta ton, atau senilai 1.536 juta dolar AS, dibandingkan periode yang sama 2020.

Pengolahan minyak sawit di Indonesia juga berpredikat unggul, bisa dilihat dari pergeseran rasio volume ekspor produk hilir dengan bahan baku/minyak sawit mentah yang saat ini mencapai 85 persen: 15 persen.

Sekitar 160 jenis produk hilir telah mampu diproduksi dalam negeri untuk keperluan pangan, fitofarmaka/nutrisi, bahan kimia/oleokimia, hingga bahan bakar terbarukan/Biodiesel FAME.

“Oleokimia juga merupakan bahan baku produk sanitasi yang banyak dibutuhkan masyarakat global. Di awal masa pandemi, terdapat kenaikan ekspor produk oleokimia personal wash hingga 26 persen,” jelas Putu.

Hilirisasi industri kelapa sawit dimulai dengan momentum pertama melalui penerbitan PMK Nomor 128 Tahun 2011 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

"Dengan melihat beberapa faktor yang bisa menjadi penggerak hilirisasi, seperti perubahan tren konsumen global yang lebih memilih produk terbarukan dan ramah lingkungan, kesadaran tinggi akan sanitasi diri pribadi dan lingkungan, serta mengutamakan modernitas produk nabati berkinerja tinggi dengan harga yang terjangkau, sektor industri oleokimia berpeluang mendapatkan momentum kedua yang punya magnitude lebih tinggi bagi pertumbuhannya,” jelas Putu.

Baca juga: Apolin: Kebijakan pemerintah perkuat daya saing industri oleokimia
Baca juga: Kinerja industri oleokimia diprediksi meningkat pada 2021
Baca juga: Dampak corona, Gapki catat ekspor oleokimia sawit tumbuh signifikan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel