Kemenperin: Ventilator buatan RI dukung subtitusi impor alat kesehatan

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut bahwa ventilator buatan Indonesia mendukung substitusi impor alat kesehatan serta berkontribusi dalam program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Market size ventilator di dunia diperkirakan tumbuh 5 persen setiap tahunnya, dengan nilai sebesar 5,79 miliar dolar AS pada 2021 dan akan semakin meningkat seiring perkembangan tahun hingga 9,13 miliar dolar AS pada 2027," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat transportasi dan Elektronika Kemenperin M Arifin lewat keterangannya di Jakarta, Jumat, saat menghadiri Sosialisasi Produk Ventilator Dalam Negeri di Semarang.

Kebutuhan ventilator di dunia terus tumbuh, kata dia, bukan hanya untuk kebutuhan pandemi COVID-19, tetapi juga untuk penanganan penyakit kronis lainnya yang membutuhkan alat bantu pernapasan.

Menurut Arifin, persaingan industri ventilator dunia terus meningkat dengan keunggulan inovasinya. Untuk itu Kemenperin terus mendukung pertumbuhan dan kemandirian industri alat kesehatan dengan memberikan berbagai kebijakan yang kondusif serta instrumen yang berpihak kepada industri dalam negeri.

Baca juga: Kemenperin dukung percepatan produksi ventilator

Selain itu langkah strategis yang dijalankan adalah mengakselerasi upaya peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Dalam forum ini, kami bangga bahwa industri alat kesehatan dalam negeri, khususnya tim pengembang ventilator, berhasil memberikan upaya nyata dalam meningkatkan daya saing industri nasional dengan menciptakan ventilator yang sudah memiliki izin edar di Kementerian Kesehatan," kata Arifin.

Izin edar tersebut diberikan untuk produk Ventilator ICU V-01 dan Ventilator Emergency R-03 yang sudah memiliki sertifikat TKDN dengan nilai 43,16 persen dan 41,90 persen.

Kehadiran industri ventilator di dalam negeri oleh pihak pengembang industri ventilator dalam negeri seperti YPTI (UGM) untuk high end ventilator, Ventilator Transport dari UI, Emergency Ventilator dari ITB, dan Portable Ventilator Emergency dari ITS, memberikan nilai tambah dan peningkatan daya saing nasional yang tidak kalah dengan produk-produk global.

Baca juga: Kemenperin gandeng empat tim pengembang ventilator

Dalam kesempatan tersebut para pengembang yang terdiri dari PT YPTI, PT Swayasa Prakarsa, PT Stechoq Robotika Indonesia, dan UGM, menyampaikan progres pengembangan ventilator produksi dalam negeri yaitu Ventilator ICU V-01 dan Ventilator Emergency R-03 yang masing-masing telah memiliki nilai TKDN 43,16 persen dan 41,90 persen.

Ventilator V-01 memiliki kapasitas produksi 100 unit/tahun, sedangkan Ventilator R-03 memiliki kapasitas produksi 200 unit/tahun.

Kemenperin juga menggandeng Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah agar membangun komitmen rumah sakit dan lembaga pendidikan kesehatan di wilayah tersebut untuk menggunakan merek dan produk dalam negeri.

Arifin melanjutkan upaya tersebut juga bertujuan memperkenalkan produk alat kesehatan dalam negeri sejak awal pendidikan tenaga kesehatan, agar proses regenerasi pemanfaatan alat kesehatan dalam negeri dapat berlangsung secara simultan antara lembaga kesehatan sebagai pengguna, dan industri alat kesehatan dalam negeri sebagai produsen.

Baca juga: Mendorong kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan Indonesia
Baca juga: Industri kesehatan dinilai perlu kolaborasi untuk mandiri