Kemenpora gelar pelatihan untuk pelatih Lisensi C AFC di Gorontalo

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI bersama Asprov PSSI Gorontalo menggelar Pelatihan Pelatih Lisensi C AFC Diploma, untuk mendukung perkembangan sepak bola di Provinsi Gorontalo.

“Kami ingin ada peningkatan kualitas pelatih sepak bola, agar mereka juga dapat melatih dengan maksimal. Hal ini menjadi perhatian penting di Kemenpora,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali di Gorontalo, Jumat.

Pelatihan tersebut diikuti 25 peserta se-Indonesia Timur, serta dihadiri Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan, Penjabat Gubernur Gorontalo Hamka Hendra Noer serta unsur Forkopimda.

“Salah satu prasyarat sepak bola kita bisa maju itu masalah sumber daya manusia. SDM nya harus berkualitas dan punya kualifikasi yang bagus. Dari banyaknya komponen yang bisa merubah semua itu, adalah pelatih. Maka kita menyadari bahwa keberadaan pelatih menjadi sangat penting,” katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat menjadi modal penting bagi pemain, untuk terus melanjutkan kariernya sebagai pelatih yang berkualitas.

Menpora mengungkapkan alasannya mendukung program yang PSSI dilakukan di Gorontalo, salah satunya karena banyak pesepak bola nasional berasal dari Gorontalo.

Ia berharap pada tahun-tahun mendatang akan kembali lahir atlet-atlet sepak bola dari Gorontalo.

“Tujuan kami hanya satu. Mengembalikan lagi marwah pesepak bola Gorontalo, masuk di tim sepakbola nasional,” imbuhnya.

Sementara itu Penjabat Gubernur Hamka Hendra Noer mengapresiasi dukungan Menpora dan Ketua PSSI kepada pengembangan olahraga di daerah itu.

“Kami di Gorontalo ingin sekali menghasilkan SDM yang berprestasi di dunia olahraga khususnya sepakbola. Kami bahkan sedang membangun SMA Negeri 6 yang dikhususkan untuk menjadi sekolah olahraga. Mohon dukungannya,” kata Hamka.

Pelatihan pelatih lisensi C menghadirkan mantan pemain sepak bola asal Gorontalo Firman Utina, serta pemain timnas lainnya dan pemain muda U-20.

Baca juga: LIB: Lisensi minimal pelatih fisik-kiper Liga 1 bisa saja berubah