Kemenpora: Generasi muda perlu ditanamkan moderasi beragama

Asisten Deputi Peningkatan IPTEK dan IMTAQ Pemuda Kemenpora Amar Ahmad mengemukakan generasi muda di Tanah Air perlu diberikan pemahaman dan penanaman nilai moderasi beragama guna menumbuhkan sikap keberagaman yang hormat terhadap paham yang tidak sama.

"Dengan penanaman moderasi beragama, juga bertujuan untuk menjauhkan sikap keberagamaan dari paham anarkis dan merasa paling benar serta untuk menebarkan kedamaian dan kasih sayang," ujarnya saat menjadi pembicara utama pada acara seminar kepemudaan HMI Kudus bersama Kemenpora dan DPR RI Komisi X di aula Mubarokfood Kudus secara hybrid, Kamis.

Baca juga: Kemampuan yang harus dimiliki generasi muda untuk membangun karir

Menurut dia, penanaman moderasi beragama penting dilakukan di tengah gencarnya perkembangan media sosial bagi kalangan milenial.

"Begitu dekatnya generasi milenial dengan teknologi informasi, kehidupan sehari-hari generasi pengguna gawai dan media sosial ini selalu bergelimang informasi, salah satunya informasi atau konten keagamaan, sehingga mereka memiliki jaringan yang luas dan lebih sering berhubungan dengan berbagai kultur, gaya berfikir, bahkan beranekaragam keyakinan," ujarnya.

Kondisi demikian menjadikan generasi muda juga rentan dalam menghadapi moderasi beragama, karena banyak yang terpengaruh oleh ajaran keagamaan yang tersebar di media sosial.

Adanya penerapan nilai-nilai moderasi beragama, diharapkan akan menjadi penangkis dari mencoloknya penyebaran paham radikalisme di media sosial. Sikap tersebut ditanamkan agar generasi milenial tidak selalu bergantung pada berita yang ada di media sosial yang belum tentu kebenarannya.

Anggota DPR RI Lestari Moerdijat menambahkan seminar dengan topik internalisasi karakter toleran di ruang digital ini penting demi membentengi generasi muda dari dampak negatif dalam memanfaatkan media sosial.

Baca juga: Akademisi: Generasi muda perlu ubah pola pikir terkait pangan

Baca juga: Kemenko: Pemuda berperan strategis dalam pemajuan kebudayaan

"Era digitalisasi dengan beragam platform media sosial, ternyata menjadi wahana baru untuk setiap narasi yang cenderung memecah belah narasi kebencian dan menjadi ajang menghujat serta ujaran kebencian. Sehingga, generasi muda perlu dibangun karakter yang toleran, peduli dan setia kawan," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, generasi muda perlu ditanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam ruang-ruang virtual melalui pembelajaran dan perbaikan sikap dengan menyadari sepenuhnya bahwa Indonesia mempunyai konsensus kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman bagi semua.

"Kami mengajak semua untuk lebih dalam mengerti makna Bhinneka Tunggal Ika bagi kita semua, dalam berbangsa dan kehidupan sehari-hari membangun toleransi," ujarnya.