Kementan-BPOM dan FAO tingkatkan kualitas pangan anak sekolah

Budi Suyanto

Kementerian Pertanian RI, Badan POM RI dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) berkolaborasi bersama dengan para musisi, komunitas anak muda di Indonesia mendukung program penyediaan makanan sehat bagi masyarakat terutama kalangan anak sekolah.

“Kita harus memastikan bahwa pangan yang tersedia tidak hanya cukup jumlahnya, tetapi juga aman dan mengandung cukup zat gizi terutama bagi anak sekolah,” Kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Para pihak tersebut pun menggelar Festival Jajanan Kaki Lima (healty street food festival) sebagai acara penutup perayaan Hari Pangan Sedunia di Indonesia, dengan tema “Tindakan kita masa depan kita. Pola Pangan sehat, untuk dunia tanpa kelaparan (#zerohunger)”.

Baca juga: Menko Airlangga harapkan data pangan terbaru dapat digunakan 2020

Pangan memerlukan proses yang panjang untuk sampai di meja makan. Proses tersebut melibatkan pengolahan lahan sampai dengan pemanenan di lahan, perlakuan pascapanen dan penyimpanan, distribusi baik ke industri pengolahan maupun langsung ke pasar/retail, dan perlakuan oleh konsumen sebelum dikonsumsi.

UU No 18 tahun 2012 tentang Pangan menjamin penyediaan pangan yang cukup, aman dan bergizi seimbang untuk hidup sehat dan aktif bagi setiap individu.

Untuk menjalankan amanat UU Pangan tersebut, Kementerian Pertanian tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga melakukan kontrol dan pengawasan terhadap pangan segar asal tumbuhan dan hewan untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan, serta melakukan upaya pengurangan food loss and waste melalui bantuan teknologi untuk meningkatkan ketersediaan pangan.

Perwakilan FAO Stephen Rudgard mengatakan, bahwa setiap orang memiliki peran dalam menghapus kelaparan dan kekurangan gizi.

“Meningkatkan kualitas makanan jalanan adalah elemen utama dari tantangan itu. Pemerintah dan masyarakat di Indonesia perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa makanan sehat dan bergizi mudah untuk diakses dengan harga yang terjangkau untuk semua orang,“ kata Stephen.


Pola pangan

Dalam beberapa dekade terakhir, masyarakat telah beralih dari makanan yang bergantung pada musim, sebagian besar bersumber dari tumbuhan (nabati) dan kaya serat, ke makanan yang tinggi karbohidrat, gula, lemak, dan garam.

Salah satunya disebabkan kurangnya waktu untuk menyiapkan makanan di rumah. Masyarakat, terutama di daerah perkotaan, semakin bergantung pada supermarket, restoran cepat saji, pedagang kaki lima dan hidangan restoran yang bisa dibawa pulang.

Anak-anak dan remaja, terutama di daerah perkotaan, memiliki akses yang sangat mudah pada makanan dan minuman siap saji yang dijual di jalanan, dengan harga murah dan ada di mana-mana. Namun, anak muda tersebut sebagian besar tidak menyadari tentang kualitas makanan yang ditawarkan di jalan.

Di Indonesia, konsumsi makanan dan minuman siap santap meningkat setiap tahun, dan saat ini, menyumbang 28 persen dari semua kalori yang dikonsumsi oleh penduduk perkotaan.

Baca juga: Bulog akan bangun King Market, toko modern khusus pangan

Sementara itu, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa makanan yang dijual di jalan menjadi sumber keracunan makanan tertinggi kedua di Indonesia.

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) merupakan salah satu prioritas pengawasan Pemerintah mengingat perannya yang strategis dalam mencukupi kebutuhan gizi anak sekolah. PJAS menyumbang 31,06 persen energi dan 27,44 persen protein dari konsumsi pangan harian. Berdasarkan Survei yang pernah dilakukan Badan POM, diketahui bahwa hampir 99 persen anak sekolah jajan di sekolah baik di kantin maupun pedagang di luar sekolah.

Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah memudahkan jual beli makanan siap saji atau siap santap kepada konsumen di manapun mereka berada melalui pembelian online dan layanan antar.

“Konsumen tidak perlu bersusah payah mendatangi pedagang makanan. Tetapi tentu saja, jual beli seperti ini tetap harus memenuhi praktik yang baik dalam memproduksi dan mengantarkan makanan kepada konsumen agar tetap terjaga keamanan, mutu, dan gizinya,” kata Kepala Badan POM, Penny K. Lukito.

Sementara itu, World Food Programme (WFP) Representative Christa Räder mengatakan, pola pangan sehat kurang tersedia dan kurang terjangkau untuk semua orang.

“Pada saat yang bersamaan, banyak yang tidak menyadari apa yang merupakan pola pangan sehat. Informasi mengenai apa yang harus dimakan dan diminum agar tetap sehat, serta kesadaran akan food waste dan food loss harus dapat diakses oleh semua orang,” ujar Christa.