Kementan Diminta Siapkan Data Terbaru demi Kebijakan Industri Perunggasan Tak Salah Langkah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Permasalahan data termutakhir atau real time disebut menjadi momok dalam pengembangan industri perunggasan dalam negeri.

Sebab itu, Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad meminta Kementerian Pertanian (Kementan) diminta mampu menyediakan data termutakhir atas keseimbangan pasokan dan permintaan, khususnya pada bibit ayam (day old chicken/DOC).

"Jadi, data menjadi informasi penting dalam rangka pengaturan kebijakan. Misalnya jumlah DOC, ada berapa data kandang, karkhas, parent stock. Namun, karena informasi yang asimatris, membuat situasi pengambilan keputusan menjadi tidak tepat atau terlambat," ujar Tauhid, Rabu (11/11/2020).

Data termutakhir dinilai penting untuk mengawasi pergerakan harga aneka jenis komoditas unggas di lapangan. "Khususnya bagi komoditas ayam pedaging muaupun telur yang harganya paling fluktuatif," jelas dia.

Pun, terjadinya permasalahan atas kelebihan produksi DOC broiler atau ayam potong juga dinilai akibat belum tepatnya kebijakan pengaturan DOC.

Mengingat kian meningkatnya ketergantungan dari perusahaan kecil dan peternak mandiri, juga situasi informasi pasar yang sulit diakses karena tidak didukung data real time.

Tauhid menekankan pentingnya penyediaan data real time dari masing-masing pelaku industri perunggasan.

Sehingga dapat diketahui aspek keseimbangan antara permintaan dan penawaran DOC untuk merumuskan suatu kebijakan yang tepat guna.

"Soal data (real time) ini akhirnya membuat kebijakan yang dihasilkan tidak tepat. Karena informasi pasar tidak diketahui," tandas dia.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Masalah Klasik Industri Unggas Tanah Air, Kelebihan Pasokan

Peternak ayam petelur Madsai (41) mengambil telur yang siap dikirim ke pasar di Desa Pengasinan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/10/2020). Harga telur eceran sempat mencapai Rp 24 ribu per kilogram, sekarang turun Rp 18,500 per kilogram. (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Peternak ayam petelur Madsai (41) mengambil telur yang siap dikirim ke pasar di Desa Pengasinan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/10/2020). Harga telur eceran sempat mencapai Rp 24 ribu per kilogram, sekarang turun Rp 18,500 per kilogram. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Nasrullah, mengakui bahwa salah satu sumber permasalahan pelik pada sektor perunggasan adalah adanya indikasi oversupply. Akibatnya banyak peternakan unggas yang menderita kerugian di sejumlah daerah.

"Kejadian ini terus terang saya belum bisa membaca yang benar yang mana apakah oversupply atau surplus produksi. Tapi boleh saya memberikan gambaran, kita bicara di luar situasi pandemi. Beberapa tahun sebelumnya kondisi perunggasan kita selalu seperti ini," tegasnya dalam webinar bertema "Menata Ulang Industri Perunggasan yang Berdaya Saing"Rabu, (11/11/2020).

Guna mengatasi oversupply tersebut, Dirjen PKH dan Menteri Pertanian mengeluarkan Surat Edaran (SE) untuk cutting Hatching Egg (HE) dan afkir dini Parent Stock (PS). Dengan adanya cross-monitoring, pemberian teguran, dan penegakan sanksi tegas maka realisasi pengurangan mencapai lebih dari 75 persen (di Jawa) dan 85 persen (di luar Jawa).

Akibatnya, harga ayam sudah mulai naik belakangan ini. Namun demikian, diakuinya bagaimanapun kebijakan cutting dan Afkir dini merupakan kebijakan 'pemadam kebakaran' yang bersifat darurat.

"Sehingga yang mana SE itu kaya obat. Kaya sakit kepala minum obat sembuh, jadi kaya brodexin. Tentunya ini kita harapkan untuk penataan unggas agar kedepannya tidak terjadi lagi," paparnya.

Oleh karena itu, pihaknya tengah berupaya menghadirkan kebijakan yang dapat menata ulang industri perunggasan dalam negeri. Sehingga tidak hanya terjadi stabilitas harga, namun juga mampu mewujudkan industri perunggasan yang inklusif, terintegrasi dan berdaya saing.

"Sehingga demikian ada sesuatu (kebijakan) yang harus kita perbaiki dalam penataan unggas. Yakni dengan mencari keseimbangan pasokan dan permintaan, penyediaan data secara real time kedepannya," imbuh dia.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Tonton Video Ini