Kementan Gencar Sosialisasikan Pertanian Modern Guna Mendorong Regenerasi Pertanian

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian (Kementan) minta Pemerintah Daerah untuk terus menggencarkan sosialisasi tentang pertanian modern guna mendorong regenerasi pertanian di wilayah setempat. Hal ini seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah (Jeteng).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengungkapkan, modernisasi pertanian ini dilakukan sejak 5 tahun terakhir. Petani mulai menggunakan alsintan dalam mengolah lahannya.

“Strateginya dengan Alsintan. Agar generasi penerus mau bertani, khususnya dalam mengolah pertanian dapat terus bertahan dan tidak ditinggalkan. Jadi, kadang generasi muda ini tidak mau capek. Alat dan mesin pertanian, kultivator hanya berapa jam untuk satu hektare sudah bisa dilakukan. Tidak harus mencangkul berhari-hari. Sekarang sudah kita kenalkan,” ujar Mentan SYL, Minggu (31/1).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, menjelaskan, penyebab turunnya jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian, karena tenaga kerja cenderung tidak memilih pertanian. Hal itu dilakukan dengan alasan upah murah. Sehingga pertanian cenderung diteruskan dengan turun menurun.

“Biasanya orang tua yang memiliki lahan pertanian dilanjutkan oleh anaknya atau keluarganya sendiri. Buruh tani dalam sehari diberikan honor Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu. Sehingga tenaga kerja lebih memilih sektor lainnya,” tutur Sarwo Edhy.

Penyebab lainnya, karena adanya alih fungsi lahan seperti ada pembangunan perumahan dari lahan yang dimiliki petani.

“Penurunan banyak lahan pertanian yang alih fungsi pembangunan perumahan. Tetapi apabila lahan pertanian yang sudah masuk rencana tata ruang wilayah (RTRW) tidak akan digunakan, kecuali untuk pertanian. Karena sudah berdasarkan RTRW maka tidak akan dibangun,” katanya.

Keberadaan alsintan, diharapkan dapat memberikan dampak pada penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Khususnya para petani muda atau petani milenial.

"Sektor pertanian masih berpotensi menyerap tenaga kerja yang besar. Anak-anak muda pun juga tidak malu bertani karena sektor pertanian sudah modern," tambah Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy mengatakan, batuan Alsintan dari Kementan selama ini tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menarik minat anak muda terjun ke pertanian.

"Tujuan utamanya tentu untuk meningkatkan produksi. Tetapi untuk memastikan ada regenerasi petani, anak muda harus diberikan sesuatu yang menarik minatnya. Yaitu dengan mekanisasi pertanian," kata Sarwo Edhy.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga Mukodam mengatakan, Pemerintah Purbalingga gencar sosialisasi berharap akan menarik minat generasi muda untuk terjun langsung dalam sektor pertanian atau agribisnis dan memberikan gambaran bahwa penggunaan teknologi di sektor pertanian efektif meningkatkan produktivitas dan sangat efisien.

"Sosialisasi terus ditingkatkan guna mendorong regenerasi pertanian, terutama sosialisasi kepada generasi muda yang ada di wilayah ini," kata Mukodam.

Sementara itu, Pemkab Purbalingga, lanjutnya, juga terus menggencarkan beberapa program guna meningkatkan efektifitas dan percepatan olah tanah dan tanam.Salah satunya dengan mendistribusikan alat mesin pertanian kepada sejumlah kelompok tani pada akhir tahun 2020 yang lalu.

Bantuan alsintan tersebut disamping akan mendukung penerapan modernisasi pertanian, juga diharapkan akan dapat mendorong modernisasi pertanian.

"Kami berharap cara ini akan dapat meningkatkan minat generasi muda atau petani muda agar bisa berkiprah lebih luas di dunia pertanian," katanya.

Dia menyebutkan, Alsintan yang diberikan berupa traktor hingga mesin pengolahan tanah lainnya. Bantuan tersebut, tambah dia, bersumber dari Kementerian Pertanian.

Sebelumnya, Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi juga mendorong para petani muda untuk terus mengembangkan sektor pertanian di wilayah setempat guna mendukung perekonomian lokal.

"Sektor pertanian adalah sektor yang menopang disaat masa-masa sulit termasuk saat pandemi COVID-19. Saat sektor lain ikut terdampak namun pertanian mampu membuktikan eksistensinya," katanya.

Di Purbalingga sendiri, kata dia, pertanian merupakan salah satu sektor andalan yang sangat potensial.

"Surplus beras hingga 18.000 ton per tahunnya adalah bukti bagaimana pertanian di Kabupaten Purbalingga terbilang kuat. Selain itu banyak juga komoditas lain yang juga potensial misalkan gula kelapa yang telah menembus pasar ekspor hingga Jepang, Amerika dan Yunani," katanya.

Selain itu, tambah dia, ada juga sektor hortikultura yaitu nanas madu yang juga menjadi salah satu andalan sektor pertanian di Purbalingga.

"Nanas madu di Purbalingga juga sangat potensial, bahkan sudah menembus pasar ekspor hingga Arab Saudi," jelasnya.