Kementan Gencarkan Sosialisasi Kartu Tani ke Petani di Gunungkidul

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) berharap sosialisasi penggunaan dan manfaat Kartu Tani di jalan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sebab, sejumlah petani masih kesulitan menggunakannya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Kartu Tani dihadirkan untuk mempermudah petani mendapatkan pupuk subsidi.

“Kita memang melakukan perubahan pola pendistribusian pupuk subsidi. Dari cara manual beralih ke Kartu Tani. Dengan cara ini, distribusi pupuk subsidi akan menjadi lebih tepat sasaran, tepat jumlah, dan lainnya. Tapi, penerapan Kartu Tani juga harus diimbangi dengan kelengkapan sarana pendukung seperti mesin EDC,” ujar Mentan, Senin (2/11/2020).

Sementara Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, mengatakan pendistribusian Kartu Tani harus diiringi juga dengan sosialisasi.

“Petani sebagai pemegang Kartu Tani harus mengetahui cara menggunakan dan manfaat kartu tersebut. Dan pemahaman atau sosialisasi mengenai ini sudah harus disampaikan saat Kartu Tani didistribusikan,” terangnya.

Menurut Sarwo Edhy, penerapan Kartu Tani sendiri ditargetkan efektif tahun depan. Sedangkan untuk sementara ini, distribusi pupuk subsidi juga dilakukan secara manual.

"Karena distribusi Kartu Tani belum selesai seluruhya. Dan belum semua daerah dilengkapi EDC. Untuk mempermudah petani, cara manual tetap diterapkan sementara ini. Namun kita berharap Kartu Tani sudah terdistribusi seluruhnya tahun depan, begitu juga dengan sarana kelengkapannya,” harapnya.

Terus Dampingi

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meluncurkan Kartu Petani Berjaya (KPB) di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (6/10/2020).
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meluncurkan Kartu Petani Berjaya (KPB) di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (6/10/2020).

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan bahwa kesulitan dalam penggunaan kartu tani dialami sebagian kecil petani di Bumi Handayani.

Terhadap mereka, DPP akan melakukan pendampingan dan sosialisasi lebih lanjut. “Mereka yang masih kesulitan tetap mendapat pendampingan dari PPL (Pertanian Penyuluh Pertanian) dan pegawai DPP,” ujarnya.

Dijelaskan Raharjo, mekanisme kartu tani sendiri berupa pembelian pupuk subsidi dengan menggunakan kartu serupa ATM yang sudah berisi saldo.

Petani cukup menggesekkan kartu tersebut ke mesin EDC untuk mendapatkan jatah pupuk yang disediakan yakni Urea, NPK, SP-36, ZA, dan pupuk organik. Cara ini disebut lebih efisien serta dapat meminimalisir permainan harga di tingkat penyalur.