Kementan: Peternak Lombok Tengah jagan panik dengan wabah PMK

Kementerian Peternakan (Kementan) Republik Indonesia meminta para peternak di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak panik dengan adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi.

"Wabah PMK ini bisa disembuhkan, jadi warga jangan panik," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan RI Nasrullah, saat meninjau lokasi ternak sapi yang terkena wabah PMK di Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Kamis.

Menurut dia, dari jumlah kasus 63 ekor di Desa Kelebuh dapat disembuhkan sebanyak 60 ekor, sehingga warga tidak usah panik. Selain itu, dari ratusan ekor sapi yang terkena PMK di wilayah Lombok atau Nusa Tenggara Barat tidak ada yang ditemukan mati terkena PMK.

"Tidak ada hewan yang mati akibat penyakit itu, dari ratusan hewan di NTB yang suspek PMK," katanya.

Jajaran Kementan, katanya, setiap hari turun ke lapangan untuk mengecek kandang-kandang yang diduga terdapat kasus PMK, baik di Pulau Jawa maupun di Lombok, seperti yang dilakukan hari ini bersama dinas terkait di daerah.

"Kami langsung turun lapangan, mengecek serta memberikan obat-obatan," katanya.

Dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus PMK tersebut, pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah membuat posko crisis center, baik di kabupaten maupun provinsi, sehingga ketika ada laporan ternak sapi warga yang tiba-tiba sakit, bisa dengan lebih cepat ditangani.

"Ini salah satu upaya kami untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dan mencegah penyebaran PMK tersebut," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Lombok Tengah mencatat ratusan ekor ternak sapi yang terkena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) telah mulai sembuh setelah diobati dan disemprot disinfektan.

"Allhamdulilah sebanyak 168 ekor ternak sapi telah sembuh," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah Lalu Taufikurahman.

Penyebaran wabah PMK tersebut mulai meluas, dimana yang awalnya ada empat dusun di wilayah Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah, menjadi delapan dusun. Sementara di Kecamatan Jonggat, yang awalnya di Desa Puyung dan Barejulat meluas ke Desa Sukarara dan Desa Nyerot.

"Total ternak sapi yang terkena wabah PMK, karena mengalami gejala yang sama itu sebanyak 373 ekor. Sembuh 168 dan sisanya itu masih dalam proses pengobatan," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel