Kementerian BUMN minta hasil COP-26 Skotlandia jadi perhatian PLN

·Bacaan 2 menit

Kementerian BUMN meminta hasil-hasil yang dicapai pada pertemuan para pihak terkait perubahan iklim atau Conference of The Parties ke-26 (COP26) yang digelar di Glasgow, Skotlandia, menjadi perhatian PT PLN (Persero).

"Terkait dengan COP26 yang baru selesai dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, ini merupakan salah satu hal penting yang perlu kita ketahui bersama di mana seluruh negara sekarang ini benar-benar memiliki berkomitmen terhadap lingkungan," kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia BUNN, Teknologi, dan Informasi, Kementerian BUMN Tedi Bharata secara virtual, Rabu.

Tedi menyampaikan hal itu saat mewakili Menteri BUMN Erick Thohir pada acara PLN TJSL Fest 2021 yang digelar secara virtual.

Ia menyebut PLN merupakan pemain utama dari kebijakan internasional tersebut, sehingga menjadi wajah Indonesia yang dikenal dunia dalam hal komitmen lingkungan berkelanjutan.

"Makanya ini merupakan hal yang penting sekali bagi manajemen, baik karyawan, dan semua stakeholder terkait," ujarnya.

Tedi juga mengapresiasi kehadiran manajemen pada ajang tersebut dan juga inisiasi yang sudah menjadi komitmen PLN sebagai bentuk dukungan PLN terhadap program yang diusung pemerintah dan mendorong PLN untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui operasional bisnis dan Program TJSL.

Baca juga: Dirut PLN paparkan program dekarbonisasi di COP-26 Skotlandia

Program TJSL merupakan komitmen dari perusahaan terhadap pembangunan yang berkelanjutan dengan memberikan manfaat sosial, ekonomi, hukum, maupun tata kelola.

Dasar pengelolaan TJSL diarahkan untuk terintegrasi, terarah, terukur, serta dampaknya dapat dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari pendekatan bisnis perusahaan.

"Kita perkenalkan kepada BUMN adanya Creating Shared Value (CSV), di mana bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan ini merupakan tanggung jawab seluruh unit di perusahaan. Artinya, yang menjadi penerima manfaat dari program ini tidak hanya lingkungan, tidak masyarakat, tapi perusahaan itu sendiri," ujar Tedi.

Artinya, lanjut Tedi, perusahaan perlu melihat tiap unit apa yang menjadi inefisien. Kemudian, transformasi bisnis apa yang perlu dilakukan.

"Tiap unit perusahaan perlu adanya keterbukaan dan transparansi. Dari sini kita akan melihat apa yang perlu ditingkatkan ke depan," kata Tedi.

Apabila itu dilakukan, lanjutnya, maka transformasi akan berjalan dan manfaat tidak hanya diperoleh oleh lingkungan, tapi juga perusahaan, yang nantinya akan berimbas pada keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.

"Ini merupakan harapan dari pemegang saham sehingga Program TJSL ini tentunya benar-benar bermanfaat untuk perusahaan dan menjaga sustainability bisnis," ujar Tedi.

Baca juga: Menteri ESDM paparkan komitmen setop PLTU di COP-26 Skotlandia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel