Kementerian BUMN: New Normal buat ketergantungan pada teknologi tinggi

Adi Lazuardi

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga menilai kondisi New Normal setelah pandemi Covid-19 membuat ketergantungan terhadap teknologi semakin besar.

"Nanti apakah akan ada vaksin atau tidak, kita harus siap. Kalau tidak ada vaksin maka kehidupan kita akan sangat berbeda atau berubah. New Normal ini membuat kita bergantung pada teknologi sangat besar. selain itu protokol kesehatan juga akan semakin ketat," kata Arya Sinulingga dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Menurut Arya, kondisi Ini sama seperti peristiwa 9/11, sebelum terjadi peristiwa tersebut orang-orang saat masuk ke bandara hanya masuk begitu saja tanpa mengalami pemeriksaan ketat. Namun setelah peristiwa itu terjadi maka orang-orang harus menjalani pemeriksaan ketat di bandara.

"Hal yang sama juga akan terjadi dengan pandemi Covid-19 ini, jadi kita mengalami perubahan besar dan teknologi menjadi acuan kita," katanya yang juga merangkap sebagai Satgas Covid-19 Kementerian BUMN.

Selain itu, lanjut Arya, seandainya vaksin anti-Covid ditemukan, sebagai manusia dan pelaku bisnis tidak akan mau kembali menjalani pola hidup lama sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

Contohnya rapat sebelum pandemi Covid-19 selalu dilakukan dalam pertemuan fisik dan harus mengatur jadwal pertemuan, namun sekarang tidak karena cukup menggunakan teknologi video conference semua bisa dilakukan.

"New Normal ini kita harus benar-benar siap karena kami di Kementerian BUMN sudah membuat skenario-skenario kalau nanti kondisi New Normal terjadi, mengingat sebelum dan setelah pandemi ada banyak perubahan," kata Stafsus Kementerian BUMN tersebut.

Arya mengatakan bahwa kurun waktu beberapa bulan terakhir ini mengubah banyak hal dan teknologi ternyata mengubah pola-pola aktivitas.

"Kami melihat di BUMN bahwa kita memiliki ketergantungan semakin cepat kepada teknologi dengan adanya pandemi Covid-19 ini, malah disrupsi dipercepat oleh pandemi Covid-19," ujar Arya Sinulingga.

Arya juga menambahkan bahwa pihaknya juga lagi menghitung di bisnis misalnya yakni seberapa besar produktivitas ketika bekerja dari rumah atau work from home (WFH), sehingga mana yang lebih produktif, produktivitasnya sama saja, atau yang mengalami penurunan.

Untuk Yang produktivitasnya sama saja dan lebih tinggi akan mulai menggeser mereka untuk melakukan work from home saja, hanya perlu laptop sehingga akan banyak efisiensi terjadi. Namun yang mengalami penurunan produktivitas mau tidak mau tetap harus masuk kantor dan tidak bekerja dari rumah.

"Ini akan semakin membuat kita tergantung kepada teknologi," ujar Stafsus Kementerian BUMN tersebut.