Kementerian ESDM: Bangunan hijau berkontribusi turunkan emisi karbon

Konsep bangunan hijau yang mengedepankan aspek lingkungan dan efisiensi energi turut andil dalam menurunkan emisi karbon, terutama dari sektor konstruksi.

Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Luh Nyoman Puspa Dewi mengatakan bangunan menyumbang emisi buang cukup besar sampai 11 persen dari pembangunan materi yang diproyeksikan bisa mencapai 20 ribu ton karbondioksida.

"Untuk menurunkan emisi ini, pemerintah mendorong pihak swasta untuk mengelola emisi. Pemerintah juga mendorong untuk pihak-pihak terkait agar memperhatikan pembangunan yang efisien dan juga menggunakan energi terbarukan," ujarnya dalam seminar bertajuk Sustainable Finance for Net Zero Green Building yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Puspa menuturkan implementasi manajemen bangunan hijau merupakan langkah yang strategis untuk mengurangi emisi dan mencapai target netralitas karbon di Indonesia.

Menurutnya, konsep bangunan hijau dapat menurunkan konsumsi listrik dan menggantikannya dengan sumber energi lain, yang selaras dengan regulasi pemerintah terkait efisiensi energi.

Pemerintah Indonesia mendukung konsep pembangunan hijau yang bersih untuk mencapai efisiensi energi yang bertujuan untuk memberikan pendekatan holistik supaya bisa menerapkan pembangunan yang lebih efektif dan efisien dalam pembangunan dan pengoperasian bangunan, serta kekuatan bahan.

Baca juga: Bangunan Hijau, solusi efisiensi energi gedung tinggi

"Ini akan mendapatkan investasi dan dukungan dari pemerintah, serta mitra-mitra pemerintah," ujar Puspa.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Transisi Energi (ETWG) G20 Indonesia Yudo Dwinanda Priaadi mengatakan kebijakan menurunkan emisi karbon merupakan hasil kesepakatan global Persetujuan Paris, sehingga negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, menaruh perhatian terhadap bangunan untuk menciptakan bangunan yang ramah lingkungan.

"Bangunan hijau merupakan salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon dan juga pembiayaan inovatif merupakan solusi lainnya supaya kita bisa menciptakan bangunan yang nol emisi," kata Yudo.

Bangunan hijau adalah bangunan yang dimulai sejak tahap perencanaan, pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, renovasi, hingga pembongkarannya memperhatikan dampak negatif dan menciptakan dampak positif terhadap iklim dan lingkungan alam.

Konsep bangunan hijau merupakan alat untuk meningkatkan efisiensi sumber daya bangunan berupa energi, air dan bahan sekaligus mengurangi dampak bangunan pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Ketua Green Building Council Indonesia Iwan Prijanto mengatakan bangunan yang paling banyak mengeluarkan emisi karbon bukan bangunan komersial, tetapi sektor perumahan yang mengeluarkan sekitar 80 persen dari emisi karbon.

"Pertanyaan paling fundamental adalah bagaimana kita menciptakan banyak perumahan tapi sangat murah bagi masyarakat, perumahan ramah lingkungan dan mengeluarkan emisi sedikit demi mencapai lingkungan yang baik," kata Iwan.

"Saya percaya sektor keuangan juga memainkan peranan penting," imbuhnya.

Baca juga: Peneliti: Penerapan konsep bangunan hijau perlu lebih meluas
Baca juga: Arsitek: Bangunan hijau dan sehat kurangi penularan COVID-19