Kementerian: GSEN solusi capai ketahanan dan kemandirian energi RI

·Bacaan 2 menit

Kementerian ESDM telah menyusun Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) yang diharapkan menjadi solusi untuk tantangan ketahanan dan kemandirian energi, antara lain meningkatnya impor energi, keterbatasan pengembangan energi baru terbarukan, dan tuntutan pembangunan infrastruktur yang lebih masif serta tepat guna.

"Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam transisi energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan juga sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia pada Paris Agreement, yaitu penurunan emisi gas rumah kaca," kata Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial dalam puncak acara Hari Pertambangan dan Energi Ke-76 yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Ego menjelaskan bahwa bidang mineral dan batu bara telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga kepastian pemanfaatan batu bara guna menjaga ketahanan energi domestik khususnya pembangkit listrik.

Sementara itu, kebijakan pemanfaatan mineral diarahkan untuk peningkatan nilai tambah terutama nikel sebagai salah satu mineral pendukung baterai kendaraan listrik.

"Dari tahun ke tahun subsektor mineral dan batu bara telah memiliki peran penting dalam perekonomian nasional di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang mulai terkendali," ujar Ego.

Hingga Juli 2021, sektor energi dan sumber daya mineral menyumbang pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp83,14 triliun atau sebesar 68,60 persen dari target PNBP tahun ini sebesar Rp121,20 triliun

Lebih lanjut, Ego menyampaikan bahwa kinerja subsektor mineral dan batu bara terus menunjukkan peningkatan yang baik dalam hal kebijakan maupun capaian strategis.

Peningkatan itu diperoleh seiring dikeluarkannya kebijakan menjaga kepastian pemanfaatan batu bara untuk ketahanan energi domestik terkhusus pembangkit listrik serta kebijakan pemanfaatan mineral untuk meningkatkan nilai tambah terutama nikel sebagai salah satu material pendukung baterai untuk kendaraan listrik.

Menurutnya, mineral yang saat ini lebih dikenal sebagai komoditas tambang yang dapat menghasilkan logam maupun bukan logam untuk keperluan berbagai macam industri memiliki potensi sebagai sumber energi serta material pendukung energi baru terbarukan dan baterai.

"Sebagai contoh mineral radioaktif uranium dan thorium yang dapat digunakan sebagai penghasil energi bersih," pungkas Ego.

Beberapa mineral lainnya, seperti nikel, litium, serta logam tanah jarang yang menjadi komponen penting untuk memproduksi baterai sebagai penyimpan energi dan komponen elektronika untuk smart grid system yang bernilai tinggi.

Komoditas batu bara juga memiliki peran yang sangat strategis dalam mendorong kedaulatan dan kemandirian energi serta dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian nasional.

Pemanfaatan batu bara akan membuka peluang untuk pembangunan wilayah, membuka peluang lapangan pekerjaan dengan adanya program hilirisasi batu bara, seperti gasifikasi.

"Kami harap mendapat manfaat lebih atau nilai tambah dari batu bara kalori rendah yang banyak dimiliki oleh Indonesia, sehingga betul-betul dapat merealisasikan untuk mendukung kedaulatan dan kemandirian energi nasional," ucap Ego Syahrial.

Baca juga: Kementerian ESDM beri penghargaan untuk pelaku "good mining practices"
Baca juga: Menteri ESDM: Ketahanan energi penting untuk sejahterakan rakyat
Baca juga: Sambut Hari Pertambangan, Menteri: Kontribusi ESDM capai Rp141 triliun

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel