Kementerian PPPA: Perempuan Lebih Rentan Terjerumus Terorisme

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kementerian PPPA), Ratna Susianawati menyoroti kaum hawa yang terjerumus dalam aksi terorisme.

Hal ini menyusul aksi teror di Makassar dan Mabes Polri Jakarta, yang melibatkan perempuan.

Menurut dia, melihat perempuan terlibat aksi terorisme membuktikan mereka lebih rentan rentan terjerumus dalam jerat persoalan tersebut.

Untuk itu, diperlukan upaya pencegahan dari seluruh elemen masyarakat, khususnya melalui penguatan ketahanan keluarga sebagai unit terkecil dan pertahanan pertama dalam masyarakat.

"Adanya fenomena peningkatan pelibatan perempuan dalam aksi radikalisme dan terorisme menunjukan perempuan lebih rentan terlibat dalam persoalan ini. Hal ini disebabkan karena faktor sosial, ekonomi, perbedaan pola pikir, serta adanya doktrin yang terus mendorong bahkan menginspirasi para perempuan, hingga akhirnya mereka nekat melakukan aksi terorisme dan radikalisme," kata Ratna dalam keterangan yang diterima, Sabtu (3/4/2021).

Dia menuturkan, kerentanan dan ketidaktahuan perempuan juga turut menjadi sasaran masuknya pemahaman dan ideologi menyimpang, sehingga mereka kerap dimanfaatkan dalam aksi radikalisme dan terorisme.

"Selain itu, keterbatasan akses informasi yang dimiliki dan keterbatasan untuk menyampaikan pandangan dan sikap, juga turut menjadi faktor pemicu. Di sinilah pentingnya ketahanan keluarga dan strategi komunikasi yang baik untuk membangun karakter anak dengan menginternalisasi nilai-nilai sesuai norma hukum, adat, agama, dan budaya," kata Ratna.

Ketahanan Keluarga Diperlukan

Ratna menilai, ketahanan keluarga dan strategi komunikasi yang baik, sangat dibutuhkan sebagai pondasi dan filter dalam pengasuhan anak di keluarga. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini, serta bervariasinya modus-modus kejahatan baru.

"Oleh karena itu orangtua harus bisa menjalin hubungan baik dengan anak, mengawasi dan mengontrol anak, memberikan edukasi, menerapkan pola komunikasi yang terbuka dan mudah dipahami, menerapkan pola pengasuhan dengan kesiapsiagaan, dan mendeteksi risiko karena banyak perempuan yang tidak tahu apa saja risiko yang akan ia hadapi, mengingat minimnya pengetahuan, kata dia.

Untuk menangani persoalan terorisme dan radikalisme di Indonesia, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Sinergi semua pihak, baik masyarakat sipil dan pihak lainnya mutlak dibutuhkan untuk bergerak secara masif dan berkelanjutan.

"Khususnya dengan melakukan sistem deteksi dini karena persoalan terorisme dan radikalisme ini merupakan tantangan besar kita dalam menghasilkan SDM berkualitas. Mari kita bersinergi lindungi perempuan dari bahaya terorisme dan radikalisme, demi mewujudkan Generasi Emas Indonesia pada 2045. Jika perempuan berdaya, anak terlindungi, saya yakin Indonesia pun akan maju," kata Ratna.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: