Kementerian PUPR Gencar Gunakan Bahan Konstruksi Ramah Lingkungan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian PUPR semakin gencar menekan penggunaan bahan konstruksi yang tidak ramah lingkungan. Salah satunya peralihan penggunaan semen ke semen Non-Ordinary Portland Cement (Non OPC).

Langkah ini masuk dalam penerapan prinsip pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan guna menekan polusi dan limbah hasil konstruksi pembangunan infrastruktur. Sedikitnya ada empat poin kontribusi limbah dan polusi dari kegiatan konstruksi.

Sektor konstruksi termasuk industri dan pelaksanaan konstruksi di lapangan berkontribusi terhadap 23 persen polusi udara dan emisi gas rumah kaca, 40 persen polusi pada badan air, 50 persen limbah sampah, dan 40 persen penggunaan energi.

“Maka penerapan prinsip pembangunan infrastruktur berbasis lingkungan dan berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan,” kata Direktur Pengembangan jasa Konstruksi, Ditjen Bina Konstruksi, Kementerian PUPR, dalam webinar nasional dengan SIG, Kamis (28/10/2021).

Ia mengatakan bahwa landasannya ada pada sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN 2020-2024. Yakni pada poin Memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar. Dan pada membangun lingkungan hidup, ketahanan bencana dan perubahan iklim.

“dua poin ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Dalam penyelenggaraan konstruksi berkelanjutan di Kementerian PUPR, ia menyebutkan hal itu perlu mencakup setidaknya tiga aspek penting. Yakni aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pada aspek ekonomi, penyelenggaraan konstruksi perlu memberikan manfaat dan mendorong peningkatan kesejahteraan dengan cara penyusunan program prioritas, efisiensi sumber daya, dukungan terhadap usaha lokal, dan penguatan UMKM.

Selanjutnya, pada aspek lingkungan perlu dapat mempertahankan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan melalui penggunaan lahan tepat guna, konservasi energi, konservasi air, manajemen lingkungan, manajemen dan pengelolaan rantai pasok sumber daya konstruksi.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Aspek Sosial

Suasana di perumahan subsidi Green Citayam City, Ragajaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/2/2021). Kredit Pemilikan Rumah atau KPR pada 2021 diharapkan dapat berkontribusi pada perbaikan pertumbuhan ekonomi nasional. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Suasana di perumahan subsidi Green Citayam City, Ragajaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/2/2021). Kredit Pemilikan Rumah atau KPR pada 2021 diharapkan dapat berkontribusi pada perbaikan pertumbuhan ekonomi nasional. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Sementara pada aspek sosial perlu mengurangi disparitas sosial sehingga berdampak pada pengurangan kesenjangan sosial dengan cara optimalisasi partisipasi masyarakat dengan memperhatikan unsur gender, kaum disabilitas, dan kaum marginal, serta pelestarian budaya atau kearifan lokal.

“Tidak hanya mengutamakan hasil dan kualitas pembangunan, namun juga memperhitungkan dampak dan keberlangsungannya untuk generasi saat ini dan generasi yang mendatang,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri PUPR, John Wempi Wetipo mengatakan bahwa salah satu dukungan dalam penerapan pembangunan yang ramah lingkungan adalah dengan memanfaatkan rantai pasok hijau. Hal ini, kata dia, mampu meningkatkan kualitas produk konstruksi.

“Upaya yang dilakukan KemenPUPR adalah menerbitkan Instruksi Menteri PUPR nomor 4/2020 tentang penggunaan semen Non-OPC. Ini material ramah lingkungan untuk menurunkan emisi karbon, serta akurasi spesifikasi sesuai dengan material,” katanya.

Dengan demikian, ia juga mengatakan bahwa penggunaan material yang hemat energi dan ramah lingkungan mampu mempertahankan data dukung dan daya tampung. Sehingga mampu mengurangi disparitas masyarakat dan mewujudkan pembangunan yang bersifat adil.

“Kami sadari berbagai upaya tidak akan optimal tanpa dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk industri semen, peran ini sangat penting terutama dalam memanfaatkan hasil riset,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama SIG, Hendi Prio Santoso mengatakan, dalam mengejar hal tersebut, pihaknya telah memiliki visi misi yang sama dengan Kementerian PUPR.

Salah satunya tercermin dari pengembangan produk ramah lingkungan seperti semen Non-OPC. “Kami telah kembangkan produk ramah lingkungan, seperti semen Non-OPC dan berbagai aplikasi konstruksi, lalu membangun perumahan dengan konsep konstruksi berkelanjutan,” katanya.

“Kami di SIG memiliki visi dan misi yang sama dengan transformasi yang dilakukan Kementerian PUPR di proyek strategis nasional, kami mendorong inovasi produk yang berwawasan masa depan dan orientasi nasional,” katanya.

Kedepannya, ua mengatakan akan merealisasikan prinsip pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan tersebut lewat beberapa program kedepannya.

“Kami harap semua itu akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan transformasi bahan bagunan menuju era yang baru,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel