Kementerian PUPR Tanam Pohon Bernilai Ekonomis di Sabuk Hijau Bendungan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rayat (PUPR) akan memanfaatkan area sabuk hijau (greenbelt) bendungan untuk ditanami berbagai jenis pohon bernilai ekonomis. Salah satunya adalah Bendungan Jatigede dan Bendungan Cipanas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Menteri PUPT Basuki Hadimuljono menjelaskan, kegiatan penanaman pohon di area sabuk hijau bendungan merupakan salah satu upaya untuk mengajak masyarakat berperan aktif dalam upaya konservasi sekaligus pengembangan potensi ekonomi lokal di sekitar bendungan.

"Ini dilakukan tanpa mengganggu fungsi utama bendungan sebagai tampungan air," kata Basuki , Selasa (27/10/2020).

Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Sudirman mengatakan, Menteri Basuki menginstruksikan agar dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur selalu berlandaskan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Termasuk dalam konstruksi bendungan.

"Untuk itu, setiap bendungan harus ditata dan memiliki kawasan sabuk hijau yang memadai melalui penanaman pohon yang disesuaikan dengan struktur tanah dan memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat," ungkapnya.

Menurut Sudirman, pelaksanaan penanaman pohon ini akan melibatkan Ikatan Purnabhakti Kementerian Pekerjaan Umum (IPPU) dan kelompok masyarakat setempat. Penanaman pohon tersebut akan dilakukan secara serentak di bendungan-bendungan di Indonesia dalam rangka memperingati Hari Bhakti PU ke-75 pada 3 Desember 2020 mendatang.

Jatigede dan Cipanas

Kementerian PUPR akan menanami area sabuk hijau bendungan dengan berbagai pohon bernilai ekonomis. Salah satunya adalah Bendungan Jatigede dan Bendungan Cipanas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Dok PUPR)
Kementerian PUPR akan menanami area sabuk hijau bendungan dengan berbagai pohon bernilai ekonomis. Salah satunya adalah Bendungan Jatigede dan Bendungan Cipanas di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Dok PUPR)

Adapun lahan sabuk hijau di kawasan Bendungan Jatigede merupakan lahan bekas quarry pembangunan di Gunung Julang Kecamatan Cisitu seluas 50 hektare.

Selanjutnya, lahan pasang surut 1.000 hektar di area genangan Bendungan Jatigede, lahan hilir bendungan seluas 40 hektar, lahan tukar menukar kawasan hutan seluas 700 ha di Kecamatan Wado dan Conggeang.

Bendungan Jatigede merupakan bendungan terbesar kedua di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dengan kapasitas tampungan sebesar 979,5 juta meter kubik (m3). Waduk ini sudah beroperasi penuh dan manfaatnya telah banyak dirasakan para petani.

Areal persawahan yang mendapatkan jaminan pasokan air sudah mencapai potensi optimal untuk mengairi 90 ribu hektar lahan sawah yang berada di Indramayu, Majalengka serta Cirebon.

Selain untuk keperluan irigasi, Bendungan Jatigede juga untuk kebutuhan air baku sebesar 3.500 liter per detik. Selain itu memiliki manfaat sebagai pengendali banjir di Kabupaten Indramayu dan Cirebon seluas 14 ribu hektar, yakni dengan mengendalikan aliran Sungai Cimanuk, dan menjadi penghasil Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 110 megawatt (MW).

Sedangkan Bendungan Cipanas yang berada di Desa Cijeungjing Kabupaten Sumedang tengah dibangun dengan progres fisik mencapai 63 persen dan memiliki manfaat sebagai daerah irigasi seluas 9.423 hektar di dua wilayah, yakni Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Sumedang.

Bendungan Cipanas juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air baku dengan kapasitas 850 liter per detik dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro sebesar 3 MW.

Sekain itu, Bendungan Cipanas menjadi pengendali banjir di Indramayu karena mampu memotong debit banjir 1.220 m3 per detik menjadi 745 m3 per detik, serta memiliki potensi untuk wisata. Di area sabuk hijau Bendungan Cipanas rencananya akan ditanami mangga gedong gincu.