Kemiskinan di Kota Bandung di Tengah Pandemi COVID-19

Syahdan Nurdin, muslimansomantri92-522
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejak awal tahun lalu, seluruh dunia dihadapkan dengan pandemi Covid-19. Pandemi ini menyebabkan banyak segi kehidupan umat manusia terpukul. Bukan hanya segi kesehatan saja yang terdampak, segi ekonomi pun tak luput dari pengaruh pandemi ini. Banyak perusahaan yang akhirnya mengurangi jumlah karyawan karena omset yang menurun selama pandemi.

Tak ayal lagi, fenomena ini menyebabkan gelombang PHK terjadi di mana-mana, termasuk di Kota Bandung. Berdasarkan catatan BPS, tingkat pengangguran terbuka Kota Bandung bertambah 3 persen selama tahun 2020, menjadi 11,19 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada di Ibu Kota Jawa Barat ini.

Angka tersebut ternyata melebihi angka pengangguran terbuka tingkat provinsi dan merupakan yang terbesar ke 4 di antara kota lainnya di Jawa Barat.

Pada akhirnya, fenomena bertambahnya jumlah pengangguran akan berpotensi melahirkan “penduduk miskin baru” di Kota Bandung. Selama tahun 2020, BPS mencatat jumlah penduduk miskin Kota Bandung bertambah sebanyak lebih dari 15.000 jiwa sehingga persentasenya menjadi 4 persen dari seluruh penduduk yang ada di Kota Kembang ini.

Pertambahan jumlah penduduk miskin ini tak lepas dari menurunnya rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Kota Bandung selama pandemi, terutama pada kelompok penduduk rawan miskin. Pada akhirnya, pengeluaran penduduk rawan miskin ini turun hingga berada di bawah garis kemiskinan dan menjadikan mereka sebagai “penduduk miskin baru”.

Secara keseluruhan, BPS mencatat bahwa rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Kota Bandung turun dari Rp. 78 juta setahun, menjadi Rp. 51 juta di tahun 2020.

Jika ditinjau dari indeks kedalaman kemiskinan Kota Bandung di tahun 2020, angkanya meningkat signifikan sebesar 15 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kesenjangan pengeluaran penduduk miskin Kota Bandung terhadap garis kemiskinan semakin menjauh selama pandemi.

Namun di sisi lain, indeks keparahan kemiskinan selama pandemi justru mengalami penurunan sebesar 7 persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini berarti kesenjangan pengeluaran antar penduduk miskin di Kota Bandung sedikit berkurang.

Selain indeks keparahan kemiskinan yang mengalami penurunan, gini rasio Kota Bandung pun mengalami hal serupa. Selama tahun 2020, gini rasio Kota Bandung mengalami penurunan sebesar 0,02 dibanding tahun sebelumnya, menjadi 0,42. Hal ini tidak terlepas dari berkurang cukup drastisnya pengeluaran “penduduk kelompok kaya” (persentil 100) selama pandemi, dari Rp 26 juta per bulan menjadi tinggal Rp15 juta. Hal itulah yang menyebabkan kesenjangan antara “si kaya” dan “si miskin” sedikit berkurang di tahun 2020.

Dari uraian singkat di atas, dapat dilihat sebuah fenomena unik terkait kemiskinan di Kota Bandung selama pandemi di tahun 2020. Di satu sisi, jumlah penduduk miskin bertambah dan pengeluaran penduduk miskin pun semakin jauh dari garis kemiskinan, akibat dari bertambahnya jumlah pengangguran dan berkurangnya pengeluaran per kapita penduduk.

Namun di sisi lain, kesenjangan pengeluaran antar penduduk miskin dan antara penduduk miskin dan kaya sedikit berkurang selama pandemi. Tentunya fenomena ini bisa menjadi gambaran bagi pemerintah agar program bantuan bagi masyarakat yang terdampak Covid-19 harus benar-benar tepat sasaran.