Kemlu: Tentara China dan India 'dalam jumlah besar' berhadapan di perbatasan

New Delhi (AFP) - India pada Kamis untuk pertama kalinya mengakui bahwa mereka telah menyamai China mengerahkan tentara dalam jumlah besar di wilayah perbatasan Himalaya yang diperebutkan, setelah bentrokan maut bulan ini.

Namun, Kementerian Luar Negeri India menuduh China menyebabkan ketegangan dengan memulai pengerahan militer. Kemlu India memperingatkan bahwa hubungan antara dua negara terpadat di dunia itu bisa rusak jika pertikaian berlanjut.

Kedua negara bertetangga itu saling menyalahkan menyangkut pertempuran 15 Juni di wilayah Ladakh. Dalam bentrokan itu, 20 tentara India terbunuh sementara China menderita jumlah korban yang tidak diketahui.

Sementara masing-masing mengatakan ingin mengurangi konflik teritorial, juru bicara Kemlu India Anurag Srivastava mengatakan "Kedua belah pihak tetap melakukan pengerahan dalam jumlah besar di kawasan itu, sementara kontak militer dan diplomatik terus berlanjut".

Srivastava mengatakan "tindakan China" di perbatasan tak resmi, yang disebut sebagai Garis Kontrol Aktual (LAC), menyebabkan pertempuran maut dengan batu dan pentungan terjadi bulan ini. Tidak ada tembakan selama bentrokan tersebut.

"Inti masalahnya adalah bahwa sejak awal Mei, pihak China telah menempatkan kontingen besar pasukan dan persenjataan di sepanjang LAC," kata juru bicara itu.

Ia menambahkan bahwa China telah menghalangi patroli India, tindakan yang bertentangan dengan perjanjian yang dibuat untuk menghindari pertikaian antara pasukan mereka, yang berperang di perbatasan pada 1962 dan sejak itu kerap bentrok.

Srivastava mengatakan pasukan China telah melancarkan "pembangunan" di sisi India dari garis demarkasi di Lembah Galwan di Ladakh, tempat pertempuran terjadi.

"Meskipun beberapa kali pernah dihentikan, tindakan pasukan China tahun ini telah mengabaikan semua norma yang disepakati bersama," kata juru bicara itu.

Karena China menumpuk pasukan, India terpaksa "juga melakukan pengerahan," katanya.

Komandan militer kedua negara telah mengadakan pembicaraan, sementara para menteri luar negeri mereka juga membahas cara untuk mengakhiri pertikaian.

"Perdamaian dan ketenangan di daerah perbatasan adalah dasar dari hubungan bilateral kita," kata Srivastava. Ia menuntut China agar menindaklanjuti janjinya untuk mengurangi ketegangan.

"Kelanjutan dari situasi saat ini hanya akan merusak suasana bagi pengembangan hubungan."

China menuduh pasukan India menyebabkan pertempuran 15 Juni dengan menyerang tentaranya.

Beijing juga menyerukan India "untuk segera menghentikan semua tindakan yang melanggar dan provokatif."


bur/tw/st