Kemunafikan di Balik Penolakan Liga Super Eropa

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kelompok suporter AC Milan, Curva Sud angkat bicara mengenai kontroversi Liga Super Eropa. Kini banyak pihak yang menganggap keputusan klub bergabung ke kompetisi baru itu sebagai sebuah pengkhiatan.

Pengkhianatan yang tak cuma dilakukan kepada sepakbola itu sendiri, tapi juga kepada suporter. 12 tim penggagas dianggap cuma akan membuat benteng pemisah dengan klub lainnya.

Kecaman disampaikan langsung oleh FIFA dan UEFA. Mereka bahkan mengancam klub yang ikut Liga Super Eropa bakalan terkena sanksi tidak bisa ikut Liga Champions, Liga Europa, dan kompetisi domestik.

Banyak suporter klub lain yang memiliki kesamaan pandangan dengan FIFA dan UEFA. Mereka meminta klubnya untuk membatalkan niat ikut Liga Super Eropa.

Tapi Curva Sud punya pandangan berbeda. Mereka bahkan menganggap kecaman dari FIFA, UEFA, dan Federasi masing-masing negara adalah bentuk kemunafikan.

Karena selama ini mereka yang membuat sepakbola lebih mementingkan bisnis ketimbang olahraga. Lantas kemarahan kepada Liga Super Eropa cuma karena sumber pendapatan mereka terancam.

"Sejujurnya, ini membuat kami tertawa melihat semua orang di ruang kontrol sepakbola tiba-tiba mengklaim bahwa kami suporter adalah yang pertama dan terpenting," demikian pernyataan Curva Sud, dikutip dari Football Italia.

"Liga Super hanyalah yang terbaru dari barisan panjang manuver yang tak terhitung banyaknya selama beberapa dekade yang telah membuat sepakbola menjadi sebuah bisnis."

"Lahirnya kompetisi baru ini tentunya akan menjadi dorongan lain untuk sepakbola lama, yang sekarang menjadi kenangan yang jauh, dan pasti akan mengaburkan tradisi berbagai Liga Nasional, merampas sepakbola dari prinsip meritokrasi olahraga yang tak terbantahkan."

"Tapi hal yang paling membuat kami marah adalah kemunafikan dari semua orang yang berkontribusi dalam membuat olahraga ini tidak lain adalah bisnis. Mereka yang saat ini ebrdiri atas nama penggemar, tetapi hanya karena mereka melihat proyeknya yang memberi mereka upah dan tampak tak tersentuh jadi berantakan."

Curva Sud dengan tegas juga menyebut kelahiran Liga Champions pada era 1990-an adalah penghancur kompetisi sebelumnya, Piala Eropa. Dan dampaknya terasa dengan adanya jurang pemisah antara klub besar dan kecil.

"Sepakbola memang milik rakyat sampai tahun 1990-an, ketika Liga Champions lahir, menghancurkan Piala Eropa yang lama. Sejak saat itu, jurang yang tak bisa ditembus telah tercipta antara klub-klub besar dan kecil."

"Sepakbola memang menjadi milik rakyat bahkan ketika tidak ada yang berani menghentikan kenaikan harga tiket yang diberlakukan oleh beberapa Presiden klub."