Kenaikan biaya hidup ubah kebiasaan sarapan masyarakat Turki

Bagi masyarakat Turki, sarapan adalah ritual yang tidak boleh dilewatkan, tetapi biaya hidup yang meningkat saat ini memaksa penduduk setempat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan santapan utama dalam sehari tersebut.

"Daya beli warga turun signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan ini telah mengubah kebiasaan sarapan mereka," kata Burak Yalcin, seorang petani lebah dari Provinsi Sivas di sebelah timur Turki, kepada Xinhua.

Yalcin memamerkan banyak produk madu dari perusahaan keluarga di ajang Festival Sarapan (Breakfast Festival) di ibu kota, Ankara, yang menyoroti pentingnya santapan paling esensial dalam sehari tersebut, bahkan di tengah krisis ekonomi.

Xinhua
Xinhua


Dahulu, madu merupakan bagian tak terpisahkan dari sarapan tradisional Turki, kata Yalcin, namun harganya yang naik membuat masyarakat menjauh dari nektar emas tersebut.

Bahkan, biaya setiap bahan utama sarapan khas Turki, seperti telur, susu, madu, sosis sapi fermentasi, mentega, zaitun, roti tomat, teh, dan kopi, semuanya melonjak dalam setahun terakhir.

"Dibanding tahun lalu, harga madu melonjak 300 persen karena biaya produksi dan transportasi," kata peternak lebah berpengalaman itu.

Bahan lain yang harus ada dalam sarapan Turki, yaitu buah zaitun, juga makin tak terjangkau di tengah kenaikan harga.

"Di wilayah kami, orang-orang biasa mengonsumsi empat atau lima jenis zaitun yang berbeda pada pagi hari, namun sekarang hanya satu jenis zaitun," kata Tulay Zor dari Provinsi Aydin di sebelah barat Turki, yang terkenal dengan pohon zaitunnya.

Produsen tersebut mengatakan bahwa harga zaitun naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, dan tampaknya inflasi pada bahan makanan pokok tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Xinhua
Xinhua

Data resmi yang dirilis pada awal November oleh Badan Statistik Turki menunjukkan bahwa biaya hidup di Turki meningkat secara signifikan, dengan harga makanan melonjak 99 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Xinhua
Xinhua

"Ambang batas kemiskinan" ditetapkan pada 24.185 lira Turki (1 lira Turki = Rp840) atau sekitar 1.300 dolar AS (1 dolar AS = Rp15.700) untuk satu keluarga yang beranggotakan empat orang oleh Konfederasi Serikat Buruh pada Oktober, sementara upah minimum yang diterapkan untuk jutaan pekerja saat ini sebesar 5.500 lira atau sekitar 296 dolar AS.

Menurut estimasi pemerintah Turki, inflasi tahunan akan turun tajam pada trimester pertama 2023, namun akan tetap berada di kisaran 50 persen hingga pertengahan tahun.