Kenaikan Biaya Pengiriman Barang hingga 300 Persen Bikin Pengusaha di DIY Pusing Tujuh Keliling

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Yogyakarta Melejitnya harga sewa kontainer dalam sebulan terakhir membuat para eksportir di DIY menjerit. Barang produksi mereka mandek di gudang penyimpanan dan gudang pelabuhan akibat mereka tidak dapat mengirimkan barang ke luar negeri. Padahal, di satu sisi permintaan barang asal DIY mengalami kenaikan.

Ketua Bidang WKU Promosi dan Pemasaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himpunan Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki), Juju Ariyati mengungkapkan permintaan ekspor mebel dan kerajinan dari Indonesia sebenarnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Ada kenaikan sekitar 20 persen untuk berbagai produk mebel dan kerajinan dari Indonesia.

Namun, salah satu kendala ekspor terbesar yang dialami para pengusaha adalah minimnya kontainer untuk pengiriman barang ke negara pemesan barang. Hal ini menyebabkan kenaikan biaya pengiriman.

"Mulai bulan lalu ada peningkatan 300 persen biaya pengiriman," Juju mengatakan, Rabu (9/6/2021) saat Rakerda DPD Himki DIY.

Wanita pemilik perusahaan di area Piyungan ini menuturkan, saat ini, semua eksportir yang berasal dari DIY mengalami hambatan pengiriman. Akibatnya, para pengusaha mengalami kerugian yang cukup besar karena barang-barang menumpuk di gudang.

Biaya pemeliharaan barang-barang mereka pun mengalami peningkatan sehingga modal yang awalnya bisa diputar ternyata justru stagnan. Sedangkan, pemerintah yang diharapkan bisa mengatasi masalah mahalnya biaya pengiriman ini ternyata belum bertindak.

"Tetapi ini tidak bisa dibiarkan. Harus disiasati," ujarnya.

Dengan kondisi seperti ini, para pengusaha di Indonesia harus dapat menemukan para pembeli dari luar negeri yang benar-benar berkualitas. Pasalnya, kenaikan harga barang menjadi satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Sebenarnya, saat ini adalah posisi yang tepat untuk mengejar nilai ekspor dari Tanah Air mengingat negara tetangga seperti Malaysia masih berkutat dengan kebijakan penanganan Covid-19.

"Malaysia itu belum memesan vaksin sama sekali padahal di Indonesia sebentar lagi vaksinasi tersebut sudah selesai. Ini tentu menjadi nilai tawar yang lebih bagi eksportir Indonesia," dia menambahkan.

Ketua DPD Himki DIY, Rustam Aji mengatakan, satu-satunya kendala untuk ekspor saat ini adalah naiknya biaya pengiriman akibat kelangkaan kontainer. Karena di berbagai sisi sebenarnya mebel dan kerajinan dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki keunggulan jika harus bersaing dengan produk yang sama dari negara tetangga.

"Kita memiliki inovasi yang cukup tinggi bahan baku yang melimpah serta iklim perdagangan yang tidak banyak dipengaruhi oleh politik," dia menandaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel