Kenaikan Harga BBM Dinilai Masih Jauh dari Tarif Keekonomian

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, yakni Pertalite dan solar, serta BBM non subsidi Pertamax. Meski demikian, kenaikan harga ini dinilai masih belum sesuai dengan harga keekonomiannya.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai, kenaikan yang dilakukan pemerintah tak serta merta menghapuskan subsidi. Hanya saja, porsi subsidi terhadap BBM yang dikurangi, dengan harapan tak membebani APBN.

"Saya kira harga saat ini masih jauh dari keekonomian ya baik itu untuk pertalite maupun solar subsidi. Maka dengan demikian saya kira pemerintah masih tetap memberikan kompensasi bagi ke dua jenis produk BBM subsidi," ungkapnya kepada Liputan6.com, Minggu (4/9).

Dengan begitu, masyarakat masih merasakan kehadiran pemerintah dengan tidak menyesuaikan harga BBM subsidi sesuai dengan keekonomiannya. Kenaikan BBM Subsidi sekitar Rp 2.000 per liter.

Dengan kenaikan yang terjadi, pemerintah masih menggelontorkan subsidi yang cukup besar. Bahkan, dia menyebut untuk Solar subsidi, ada selisih sekitar Rp 12.000 dengan harga keekonomian.

Menurutnya, besarnya selisih ini masih membuka peluang adanya penyelewengan bahan bakar. Misalnya, adanya oknum yang menjual Solar subsidi untuk kepentingan industri. "Saat ini solar Rp 6.800 (per liter) padahal keekonomian masih di Rp 18.000-an per liter," kata Mamit.

"Masih (cukup besar subsidi) apalagi untuk solar subsidi, kenaikan ini masih memungkinkan terjadi penyelewengan. Seperti dijual kembali untuk industri misalnya," tambahnya.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com [azz]