Kenaikan Harga Energi hingga Suku Bunga Jadi Risiko di Pasar Saham

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham diprediksi berpotensi lanjutkan penguatan pada 2022. Katalis yang akan pengaruhi saham masih lanjutan dari sentimen semester II 2021. Harga energi hingga potensi kenaikan suku bunga mempengaruhi pasar keuangan.

Dalam laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia memandang kinerja saham akan lebih baik pada 2022. Ashmore pun merekomendasikan untuk menambah porsi saham dalam portofolio. Adapun sejumlah katalis yang akan pengaruhi saham, dikutip Minggu (9/1/2022), antara lain

-Pasar belum mencapai puncaknya

"Kami melihat masih ada ruang untuk berkembang dan tumbuh. Di negara maju seperti Amerika Serikat, pasar tenaga kerja masih bergerak menuju data tenaga kerja yang penuh,” tulis Ashmore.

Laporan itu menyebutkan pola masa lalu menunjukkan kesempatan kerja penuh tercapai, pasar cenderung tidak mencapai puncaknya.

-Kebijakan utama mendorong inflasi

Inflasi telah meningkat dalam satu tahun terakhir karena berbagai pilihan kebijakan. Ashmore menilai, inflasi memiliki ruang untuk mencapai puncak seiring kenaikan harga energi dan gangguan pasokan. Sedangkan tekanan dari inflasi berpotensi melunak pada 2022.

"Itu mungkin membutuhkan respons lebih cepat dari bank sentral termasuk the Federal Reserve untuk dongkrak tingkat bunga,” tulis Ashmore

-Kenaikan suku bunga kembali pada 2022

Dengan kecepatan tapering off atau pengurangan stimulus saat ini, pasar berharap akan berakhir pada Maret-April 2022. Konsensus mengharapkan kenaikan suku bunga pada 22 Maret 2022.

Namun, ini mungkin terjadi lebih cepat jika sejumlah faktor inflasi menjadi secara eksponensial lebih tinggi dari perkiraan awal 2022 yang kemungkinan akan menganggu pasar obligasi. Meski demikian, pertumbuhan obligasi tetap positif seperti saham.

Ashmore juga melihat aliran dana akan masuk ke sektor berbasis environment, social and governance (ESG) lebih cepat dari 2021. Lima kelompok teknologi ini dapat menekan emisi gas rumah kaca. Kelompok tesebut antara lain elektrifikasi, pertanian, power grid, hydrogen, dan karbon.

Berdasarkan studi, lima kelompok ini dapat menarik modal hingga USD 2 triliun pada 2025 dan dapat kurangi emisi gas rumah kaca 40 persen pada 2050.

Di sisi lain, varian COVID-19 omicron juga masih membayangi pasar keuangan. Akan tetapi, varian terbaru tersebut menunjukkan dampak lebih ringan dan kecil.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pengunjung melintasi layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, risiko lain yang harus diwaspadai pada 2022 antara lain:

-Volatilitas harga energi

Kenaikan harga energi positif untuk neraca Indonesia seiring pengekspor energi. Namun, volatilitas harga energi dapat sebabkan lonjakan inflasi yang pengaruhi konsumsi secara negatif dan menyebabkan kebijakan pengetatan.

“Secara keseluruhan, kami melihat pergeseran menuju energi berkelanjutan adalah tren yang harus diperhatikan dalam struktur deflasi pada jangka panjang. Namun, jangka pendek, investasi besar dan kecepatan transisi yang dipercepat mungkin menjadi inflasi,” tulis Ashmore.

-Penurunan properti China

Pengembang properti China alami gagal bayar pada 2021 sebagai awal penurunan properti China. Rumah Tangga di China yang memilih properti sebagai investasi utama, penurunan harga properti mungkin halangi banyak orang untuk membeli properti dalam jangka pendek.

Di sisi lain mengingatkan bobotnya terhadap kekayaan rumah tangga berdampak pada total produk domestik bruto (PDB) akan terpengaruh.

"Hasil dari ini, pembelian listrik lebih rendah, impor komoditas ke China juga akan terdampak, dan Indonesia sebagai salah satu eksportis mungkin terpengaruh,” tulis Ashmore.

-Alternatif investasi meningkat hanya 6 persen pada 2005 menjadi 12 persen dari total aset pada 2021

Hal ini diperparah dengan pengenalan aset digital selama pandemi COVID-19. Alternatif investasi lainnya antara lain real estate, hedge fund, private equity dan utang swasta berkontribusi 90 persen dari alternatif aset keseluruhan.

Alternatif aset bitcoin dan real estate korelasinya rendah dengan saham dan meningkatkan dampak diversifikasi terhadap pergerakan saham.

Pertumbuhan EPS pada 2022

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Baik indikator konsumsi dan investasi Indonesia menunjukkan pemulihan dalam jangka pendek. Ini menempatkan Indonesia sebagai kunci di negara berkembang dengan ekonomi makro yang stabil.

"Sementara kita telah melihat aliran dana investor asing yang ke Indonesia pada 2021 terutama saham, peningkatan prospek pertumbuhan Indonesia mungkin mendorong aliran dana investor asing berlanjut pada 2022,” tulis Ashmore.

Pada saat ini, pasar perkirakan pertumbuhan earning per share (EPS) 18 persen pada 2022 dan 11 persen pada 2023.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel