Kenaikan Harga Kedelai Masih Hantui Pengrajin Tahu Tempe

Liputan6.com, Jakarta : Pemerintah memperkirakan pengusaha pengolahan panganan berbahan baku kedelai akan tetap dihantui kenaikan harga kedelai di tahun ini. Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, mengatakan harga kedelai akan dipengaruhi beberapa hal, salah satunya musim panen di Amerika Serikat (AS) terkait musim dingin.

Dia mengatakan kondisi di AS dipastikan akan sangat mempengaruhi Indonesia. Selama ini volume impor kedelai Indonesia terbesar berasal dari Amerika Serikat (AS) dalam lima tahun terakhir. "Dari total impor 1,5 juta ton sekitar 1,4 juta berasal dari AS," ujar dia, di Jakarta, Rabu (23/1/2013).

Pemerintah mengakui fluktuasi harga kedelai menjadi salah satu hal tantangan yang harus dihadapi industri pengolahan panganan berbahan baku komoditas pertanian tersebut. Saat ini harga kedelai mengacu pada harga internasional dimana perubahan harga bisa terjadi beberapa kali dalam sehari.

Berdasarkan catatan Perum Bulog, harga kedelai cenderung dalam tren naik. Pada 2008 harga kedelai berada pada posisi US$ 451 per ton, terus sempat turun di 2009 menjadi US$ 374 per ton. Namun naik kembali di 2010 menjadi US$ 386 dan terus ke level US$ 484 di 2011. Tahun lalu, harga kedelai ditutup sebesar US$ 525 dan pada Januari 2013, sedikit turun menjadi US$ 517 per ton.

Tantangan harga ini, menurut Bayu, juga berlaku bagi pemerintah untuk mencari cara stabilisasi harga kedelai. "Itu yang kami inginkan harga stabil di tingkat petani," tutur dia.

Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), Sutarto Alimoeso, juga memperkirakan akan terjadi kenaikan harga kedelai lagi tahun ini dibandingkan tahun lalu. "Kenaikan harga kedelai karena penurunan produksi, akibat masalah iklim seperti kondisi panen di AS," tutur dia.

Persoalan lain yang juga akan mempengaruhi harga kedelai adalah pembatalan impor dari China. Selama ini, China menjadi pengimpor kedelai terbesar AS maupun dunia. (Nur/Shd)