Kenaikan Inflasi AS akan Pengaruhi Permintaan Ekspor RI

Merdeka.com - Merdeka.com - Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali melonjak ke angka 9,1 persen (y-on-y) ini merupakan lonjakan yang sangat tinggi selama 40 tahun terakhir. Semula inflasi AS diperkirakan mencapai 8,8 persen akan tetapi ramalan itu melesat dan menjadi 9,1 persen.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, ada 3 dampak tingginya inflasi AS yang bisa mempengaruhi ekonomi di Indonesia. Pertama inflasi di AS membuat tekanan pada sisi permintaan ekspor produk Indonesia baik komoditas maupun olahan produk.

"Konsumen di AS akan mengurangi pembelian barang impor dan cenderung lebih banyak berhemat akibat pelemahan daya beli," ujar Bhima, kepada merdeka.com, Senin (25/7).

Kedua, transmisi di pasar keuangan perlu dicermati karena investor akan beralih ke aset yang lebih aman menghindari risiko stagflasi dan resesi di AS. "Aset seperti dollar AS akan diincar sebagai safe haven dan ini akan memukul stabilitas kurs rupiah,"terangnya.

Ketiga, inflasi yang tinggi akan direspon oleh The Fed dengan kenaikan tingkat suku bunga yang tajam sehingga berdampak pada semakin cepatnya Bank Indonesia (BI) menyesuaikan tingkat suku bunga acuan. "Cost of fund pelaku usaha dan masyarakat umum dalam melakukan pinjaman akan naik dan hambat ekspansi usaha," tambah Bhima. [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel