Kenaikan Tarif Terlalu Tinggi, Sopir Taksi Online Protes ke Dishub Sulsel

Merdeka.com - Merdeka.com - Pengemudi taksi online yang tergabung dalam Gaspol meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) melalui dinas perhubungan merevisi angka kenaikan tarif. Kenaikan tarif baru yang diberlakukan terlalu tinggi sehingga bisa berdampak pada jumlah penumpang.

Ketua Gabungan Aliansi Pengemudi Online Sulsel Syukur Aldhi mengatakan, pihaknya akan mengajukan keberatan ke Pemprov Sulsel. Mereka meminta untuk merevisi rencana kenaikan tarif yang terlalu tinggi dan tidak proporsional dengan kemampuan masyarakat.

"Insya Allah, kami menyurat ke gubernur untuk mengkaji kembali besaran tarif. Kami tidak hanya menyampaikan aspirasi dari pengemudi taksi online, tapi juga masyarakat umum sebagai konsumen," kata Syukur melalui keterangan tertulisnya, Kamis (22/9).

Syukur menjelaskan, saat ini rencana kenaikan tarif taksi online di Sulsel menjadi Rp15.600 per kilometer. Padahal sebelumnya hanya Rp8.000, padahal kenaikan harga BBM saat ini hanya sekitar 30 persen.

"Kalau tarif mahal dan penumpang berkurang drastis, kami juga sedih. Ini tidak boleh diterapkan karena memberatkan konsumen," bebernya.

Syukur berharap permohonan mereka untuk berdialog dan mengkaji ulang tarif taksi online dapat diterima dengan baik oleh Pemprov. Dia berharap masalah ini bisa dibahas kembali.

Pasalnya angka yang ada sekarang ini dinilai akan sangat membebani masyarakat. Syukur mengatakan sejak wacana kenaikan tarif taksi online, pihaknya juga belum membuka dialog dengan Pemprov.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Rizal Pauzi juga menilai kenaikan tarif taksi online di Sulsel tidak masuk akal.

Menurutnya, butuh kajian dan perhitungan yang jelas agar kenaikan tarif tidak merugikan pengemudi, aplikator, maupun masyarakat.

"Pasalnya besar kenaikan tarif yang diusulkan oleh Dishub Sulsel mencapai 100 persen. Harus angka proporsional. BBM ini kan naiknya kisaran 20 persen," ungkapnya.

Menurutnya, jika ada kenaikan pada barang dan jasa yang dipengaruhi oleh BBM, maka tidak boleh lebih dari 20 persen. Sehingga kenaikan tarif transportasi online hanya di kisaran 10-15 persen saja.

Sementara Kepala Dishub Sulsel, M Arafah mengaku kenaikan tarif taksi online tersebut masih belum final. Ia mengungkapkan masih ada hal spesifik yang masih perlu dikaji.

"Itu sudah diajukan, tetapi kan ada pertimbangan lebih spesifik lagi oleh pimpinan terkait dasar hukum batas atas dan bawah itu. Jangan sampai naik, masyarakat tidak bisa beli (jangkau)," sebutnya.

Meski demikian, pihaknya mendukung aplikator taksi online untuk membahas terkait kenaikan tarif dengan mitra.

"Kita support teman-teman aplikator agar ada titik temunya (besaran kenaikan tarif) nanti di mana," ucapnya. [cob]