Kenaikan Tarif Tol hingga Harga Cabai Picu Inflasi Februari 2021

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pemicu utama inflasi pada Februari 2021 yang mencapai 0,10 persen secara bulanan. Penyumbang terbesar inflasi adalah kelompok pengeluaran transportasi.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, kelompok pengeluaran transportasi memberikan andil inflasi terbesar pada bulan itu sebesar 0,04 persen dengan besaran inflasi adalah sebesar 0,30 persen.

Adapun penyumbang utama inflasi di kelompok ini, Suhariyanto menjelaskan akibat terjadi kenaikan tarif tol dengan andil 0,02 persen mulai 17 Januari 2021. Akibatnya, berdampak pada perkembangan inflasi.

"Jadi kalau kita lihat terjadi kenaikan tarif di enam kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di mana kenaikan tol tertinggi terjadi di Surabaya dan kemudian di Bekasi," tegas dia, Senin, 1 Maret 2021.

Baca juga: Program Vaksinasi COVID-19 Masuk Dalam Sistem Satu Data Indonesia

Selain akibat tarif tol, dia melanjutkan, terjadinya inflasi di kelompok transportasi pada bulan ini juga dipicu oleh kenaikan tarif angkutan udara di beberapa tempat. Andilnya untuk keseluruhan inflasi sebesar 0,01 persen.

Adapun kelompok kedua yang menyumbang inflasi, Suhariyanto menyebutkan, adalah perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,36 persen dengan andil 0,02 persen.

"Kelompok pengeluaran pemeliharaan rutin rumah tangga komoditas yang dominan dalam kelompok pengeluaran ini adalah kenaikan upah asisten rumah tangga sehingga beri andil ke inflasi 0,01 persen," ungkap dia.

Kelompok ketiga terbesar yang menyumbang inflasi pada Februari 2021 adalah penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,28 persen dengan adilnya ke inflasi umum sebesar 0,02 persen.

Adapun untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau dikatakannya terjadi inflasi yang sangat tipis sekali, yakni hanya sebesar 0,07 persen dengan andilnya ke inflasi umum sebesar 0,02 persen.

Adapun komoditas utama yang menyumbang inflasi di kelompok ini adalah cabai rawit dan ikan segar dengan andil 0,02 persen. Harga untuk komoditas ini dipengaruhi oleh cuaca di awal tahun yang kurang kondusif.

"Demikian juga untuk ikan segar karena cuaca kurang bagus, cuaca agak ekstrem di beberapa wilayah Indonesia menyebabkan nelayan tidak melaut dan menyebabkan pasokannya menurun," paparnya.